
Facebook | Foto: Cyberthreat/Faisal Hafis
Facebook | Foto: Cyberthreat/Faisal Hafis
Jerusalem, Cyberthreat.id – Sekelompok karyawan dari NSO Group mengajukan gugatan terhadap Facebook Inc pada Selasa (26 November 2019). Gugatan itu lantaran raksasa media sosial itu secara tidak adil memblokir akun pribadi mereka.
NSO Group adalah perusahaan perangkat lunak asal Israel yang terkenal dengan produk pengintaian (spyware) Pegasus. Layanan pesan WhatsApp, yang dimiliki oleh Facebook, menuduh NSO membantu mata-mata pemerintah membobol ponsel sekitar 1.400 pengguna di empat benua.
WhatsApp telah mengajukan langkah hukum di pengadilan California, Amerika Serikat, pada Oktober lalu. WhatsApp menyatakan, spyware NSO telah menargetkan kalangan diplomat, aktivis politik, wartawan, dan pejabat senior pemerintah.
Seperti diberitakan Reuters, Selasa, karyawan NSO mengatakan, bahwa akun Facebook dan Instagram mereka, dan juga mantan pekerja dan anggota keluarga, telah diblokir. Mereka mengajukan petisi ke Pengadilan Distrik Tel Aviv untuk memerintahkan Facebook membuka blokir akun, yang mereka klaim dilakukan dengan tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan.
Berita Terkait:
Dalam sebuah pernyataan, Facebook mengatakan, memang telah menonaktifkan "akun yang relevan" setelah menghubungkan "serangan siber yang canggih" dengan NSO Group dan karyawannya.
Tindakan itu "diperlukan untuk alasan keamanan, termasuk mencegah serangan tambahan," kata perusahaan. Namun, beberapa akun telah dikembalikan melalui proses banding.
Dalam pernyataan mereka, karyawan NSO menilai Facebook telah menjatuhkan "hukuman kolektif" dengan memilih untuk memblokir akun pribadi mereka karena proses hukum yang dilakukan Facebook terhadap NSO.
Terlebih, gugatan tersebut dilakukan, kata mereka, lantaran berulang kali telah meminta Facebook untuk membuka akun yang diblokir, tapi tidak ditanggapi.
Berita Terkait:
"Memblokir akun pribadi kami adalah langkah yang menyakitkan dan tidak adil oleh Facebook," kata pernyataan itu. "Bahwa data pribadi dicari dan digunakan sangat mengganggu kami".
Para karyawan mengatakan mereka akan terus "membantu pemerintah di seluruh dunia mencegah kejahatan dan terorisme melalui teknologi yang kami kembangkan".
WhatsApp menuduh NSO memfasilitasi kegiatan meretas pemerintah di 20 negara. Meksiko, Uni Emirat Arab dan Bahrain adalah satu-satunya negara yang diidentifikasi.
NSO, yang didirikan pada 2009, membantah tuduhan itu.
Berbicara pada sebuah konferensi teknologi di Tel Aviv pada Senin lalu, Presiden NSO Group, Shiri Dolev, membela perusahaannya.
Berita Terkait:
Menurut dia, teknologi NSO membuat dunia lebih aman. Dolev juga mengatakan dia berharap NSO dapat berbicara secara terbuka tentang perannya dalam membantu lembaga penegak hukum menangkap teroris.
"Teroris dan penjahat menggunakan platform sosial dan aplikasi yang kita semua gunakan setiap hari ...," kata dia.
Dolev menambahkan bahwa NSO tidak mengoperasikan teknologi atau meretas telepon. "Kami mengembangkan teknologi yang kami jual secara eksklusif ke badan intelijen pemerintah," kata dia.
Share: