
Pendiri dan CEO Binance Changpeng Zhao. Foto: coinchoose.com
Pendiri dan CEO Binance Changpeng Zhao. Foto: coinchoose.com
Jakarta, Cyberthreat.id - Pendiri dan CEO Binance, Changpeng Zhao, mengatakan, internal perusahaan langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh setelah insiden peretasan yang mengakibatkan hilangnya 7.000 Bitcoin atau setara US$ 41 juta (sekitar Rp 586 miliar).
"Tinjauan keamanan akan mencakup semua bagian dari sistem dan data kami yang besar," kata Zhao dalam pernyataan resminya di situs web Binance, Rabu (8/5/2019).
Seperti diberitakan sebelumnya, Binance telah dibobol peretas yang terjadi pada Selasa (7/5/2019) sekitar pukul 17.25 (UTC) atau sekitar pukul 02.15 WIB.
Berita Terkait:
Binance mengatakan, para peretas menggunakan berbagai teknik untuk menerobos keamanan perusahaan, seperti phising, virus, dan serangan lain. Dengan upaya itu, mereka akhirnya mendapatkan ke akun pengguna, termasuk kunci API, kode 2FA, dan informasi lain yang berpotensi.
Zhao mengatakan, pemeriksaan internal diperkirakan memakan waktu sekitar sepekan. "Dan, kami akan sering mengunggah perkembangan yang ada," kata dia.
Terpenting, kata dia, setoran dan penarikan Bitcoin akan ditangguhkan selama periode pemeriksaan tersebut. "Kami mohon pengertian Anda dalam situasi sulit ini," kata Zhao.
Zhao menambahkan, Binance akan terus mengaktifkan perdagangan sehingga pengguna dapat menyesuaikan diri.
"Harap dipahami juga bahwa peretas masih dapat mengontrol akun pengguna tertentu dan dapat menggunakannya untuk mempengaruhi harga sementara ini," kata Zhao.
"Tapi, kami percaya penonaktifkan penarikan, tidak banyak insentif bagi hacker untuk mempengaruhi pasar," ia menambahkan.
"Dalam masa sulit ini, kami berusaha untuk menjaga transparansi dan akan menghargai dukungan Anda," kata Zhao.
Share: