
Ilustrasi : Faisal Hafis/Cyberthreat.id
Ilustrasi : Faisal Hafis/Cyberthreat.id
Cyberthreat.id - Sebuah laporan yang ditulis Cyware Hacker News menyatakan sepanjang Januari - September 2019 sebanyak 7,9 Miliar catatan data bocor di Amerika Serikat (AS). Dalam periode itu, terjadi sebanyak 5139 kasus kebocoran data, tetapi yang dilaporkan secara resmi hanya 1692 kasus.
Dibandingkan tahun lalu dalam periode yang sama, jumlah catatan yang bocor tahun ini meningkat 112 persen. Catatan yang bocor termasuk data pribadi, data transaksi serta data-data berharga lainnya, terutama yang bernilai ekonomi jika diolah lebih lanjut.
"3,1 miliar data yang bocor tahun ini terjadi hanya dalam rentang waktu tiga bulan, yakni periode 1 Juli hingga 30 September," tulis Cyware, Jumat (15 November 2019).
Survei Risk Based Security dalam Data Breach QuickView Report 2019 menyatakan sektor ekonomi/finansial, layanan medis, perusahaan ritel dan entitas milik publik paling banyak mengalami pelanggaran data.
Lebih dari 6 miliar catatan yang terekspos selama rentang sembilan bulan terjadi karena kesalahan konfigurasi database, masalah backup (cadangan data), endpoint dan layanan yang salah konfigurasi.
"Hari ini banyak tersedia alat eksploitasi (exploit tools) ditambah dengan kerentanan memicu pertumbuhan jumlah catatan yang dikompromikan," tulis laporan Data Breach QuickView Report 2019.
Laporan juga menyebutkan terjadinya sebuah babak baru atau level baru dalam kasus kebocoran data. Salah satu indikasinya jumlah kebocoran data tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Malahan strategi yang digunakan semakin canggih mengikuti perkembangan teknologi.
"Ini peringatan bagu organisasi/perusahaan di seluruh dunia. Bahwa harus melakukan upaya ekstra untuk mengurangi risiko keamanan dan meminimalkan dampak pelanggaran daripada hanya mengandalkan solusi pertahanan saja."
Share: