
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Pemerintah Amerika Serikat sedang sial betul: tertipu mentah-mentah oleh perusahaan teknologi, Aventura Technologies Inc.
Ini berawal dari pembelian alat keamanan dan pengawasan yang ternyata memiliki kerentanan keamanan siber. Mereka pun dituding telah melakukan penipuan.
Menurut Departemen Kehakiman AS (DoJ), Aventura dengan sengaja menjual peralatan yang rentan kepada pemerintah dan pelanggan swasta. Mereka pun diadukan ke pengaduan pidana (criminal complaint) pada Kamis (7 November 2019), demikian seperti dikutip dari ZDNet, Jumat (8 November).
Mereka juga disangkakan telah berbohong karena mengklaim bahwa produk-produk yang ditawarkan tersebut adalah “Made in USA”,yaitu buatan Long Island, tapi ternyata peralatan tersebut diam-diam diimpor dari China.
Terletak di Commack, New York, Aventura Technologies menjual produk-produk, seperti kamera pengintai (CCTV), layanan penyimpanan.
Praktik penipuan itu, tulis ZDNet, diduga telah beroperasi sejak 2006. Pelanggan dibohongi selama lebih dari 10 tahun, tutur jaksa penuntut umum setempat.
Untuk menyelidiki dugaan penipuan itu, penegak hukum mencegat dan menandai pengiriman yang dilakukan dari China ke markas Aventura. Salah satu produk tersebut, sebuah kamera pengawas malam yang dilengkapi laser seharga US$ 13.500 dan dipesan oleh Angkatan Laut AS pada 2019 ini.
Setelah ditelusuri, barang tersebut berasal dari China yang dikapalkan melalui Jamaika, selanjutnya dikirim ke Aventura. Dari Aventura barulah barang dikirim ke Pangkalan Kapal Selam Angkatan Laut New London di Groton, Connecticut.
Untuk mengelabui pelanggan, termasuk AL AS, mereka diduga menghapus tulisan China dari papan sirkuit, menghapus nama pabrik asli dari komunikasi server, dan menggunakan gambar untuk menyulap visi jalur perakitan di AS; padahal sebenarnya barang-barang itu berasal dari Hangzhou, China.
Jaksa penuntut umum mengatakan, Aventura telah menghasilkan lebih dari US$ 88 juta sejak November 2010 dan setidaknya US$ 20 juta dihasilkan melalui kontrak pemerintah federal.
Selain ke AL, produk-produk yang diimpor Aventura pun dijual ke Angkatan Udara AS pada 2018, yaitu berupa kamera tubuh sebanyak 25 unit dan “network automated turnstiles” senilai US$ 156.000 yang dibeli oleh Departemen Energi tahun ini
"Aventura tidak hanya menipu pelanggannya, tetapi juga membuat mereka terkena risiko keamanan siber yang serius dan menciptakan saluran di mana pemerintah asing yang bermusuhan dapat mengakses beberapa fasilitas pemerintah yang paling sensitif," kata DoJ.
Aventura dan tujuh karyawannya juga ada mantan karyawan telah menjadi tersangka sejak Kamis pagi pekan lalu. Mereka antara lain Jack Cabasso (pemilik/61 tahun), Frances Cabasso (istri dan CEO/59 tahun), Jonathan Lasker, Christine Lavonne Lazarus dan Eduard Matulik (eksekutif senior), Wayne Marino (karyawan), serta Alan Schwartz (bekas karyawan yang baru saja penisun berusia 70 tahun). Namun, baru enam orang yang ditangkap.
Cabassos disangkakan dengan pencucian uang dan aset telah disita, termasuk kapal pesiar mewah setinggi 70 kaki dan uang US$ 3 juta yang disimpan di 12 rekening bank. Semua tersangka dituduh melakukan impor ilegal dan konspirasi untuk melakukan penipuan kawat dan bank.
"Mereka akan menghadapi konsekuensi serius karena memalsu ‘Made in USA' pada label produk angkatan bersenjata kita dan fasilitas pemerintah sensitif lainnya," tutur Jaksa Richard Donoghue.
Share: