
Mesin pencari Yandex. | Foto: tangkapan layar situs web Yandex.com
Mesin pencari Yandex. | Foto: tangkapan layar situs web Yandex.com
Cyberthreat.id – Orang-orang di dunia telah terpapar Google. Google telah menjadi “kata kerja” di era teknologi saat ini. Apakah kamu sudah meng-Googling hari ini? Atau, kamu tinggal Googling saja untuk cari sesuatu!
Kita tahu Google telah mendominasi. Tampaknya kita telah kecanduan Google. Dikit-dikit cari sesuatu di Google. Seolah-olah tanpa Google, kita tak pernah bisa mendapatkatn sesuatu.
Ya, Google mendominasi. Namun, ia tak sendirian di dunia ini. Di jagat maya, ia punya pesaing seperti Bing dari Microsoft, Baidu dari China, dan tentu saja sang pioner: Yahoo!. Indonesia juga punya namanya Geew.
Nah, di Rusia, negara yang “selalu bersaing ketat” dalam hal apa pun dengan Amerika Serikat, juga memiliki Yandex.
Namun, Yandex tak sekadar mesin pencari. Ia lebih dari itu. Ia melebarkan sayap dari sekadar mesin pencari. Ia menciptakan smart speaker (pelantang pintar) dan asisten pribadi yang diaktivasi dengan suara. Terakhir, Yandex mengembangkan mobil otonom (self-driving car).
Berita Terkait:
Yandex pada 2018 menjadi perusahaan yang telah menguji coba “mobil tanpa pengemudi pertama di dunia".
Yandex juga mengembangkan:
Pada 23 September 1997, situs web Yandex.ru diluncurkan oleh tiga sekawan: Arkady Volozh (kini CEO), Arkady Borkovsky, dan Ilya Segalovich.
Kini, Yandex berkembang menjadi raksasa IT yang merambah ke banyak area. Awalnya Yandex hanya berbahasa Rusia, tapi kini telah menggunakan bahasa Inggris di situs web Yandex.com.
Yandex adalah mesin pencari terbesar di Rusia. Menurut Statcounter, mereka memiliki 48,79 persen pangsa pasar di Rusia pada Juli 2019, sedangkan Google sebesar 47,88 persen.
"Di Barat, mereka menjuluki kami Google dari Rusia, tapi sesungguhnya kami jauh lebih maju dari itu: kami adalah Uber dari Rusia dan Spotify dari Rusia dan banyak hal lain dari Rusia," ujar pendiri dan CEO Yandex, Arkady Volozh, pada Mei 2017 seperti dikutip dari BBC.
Kali pertama dirilis dan didemonstrasikan, banyak orang bergantian menggunakannya. Kala itu, mengindeks 5.000 situs web yang berkapasitas 4 gigabita (GB) teks. Awalnya, pencarian Yandex didasarkan pada morfologi bahasa Rusia dan mempertimbangkan jarak antarkata.
Yandex sendiri singkatan dari “yet another indexer”. Arkady-lah yang menyarangkan untuk mengganti dua huruf bahasa Inggirs pertama dengan huruf Rusia Я ("Ya"). Dan, hasilnya, program tersebut dinamai Яndex. Kata Yandex sendiri telah dipikirkan Arkadiy dan Ilya Segalovich sejak 1993 sejak bekerja di perusahaan kecil “Arcadia. Intelligent Project”—keduanya membuat program pencarian Alkitab, klasifikasi barang dan layanan, serta klasifikasi paten internasional.
Memori sebesar 4 GB, kala itu harganya ribuan dolar, kini hanya beberapa dolar, adalah yang dibutuhkan Arkady untuk membuat mesin peramban Yandex.
Pada mulanya, Yandex adalah sebuah proyek dari perusahaan telekomunikasi bernama CompTek yang didirikan Arkady nyaris satu dekade sebelumnya.
Yandex mulai membesar dan melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada 2011. Ia meraih pendanaan sebesar US$1,3 miliar pada saat IPO, tidak jauh berbeda dari IPO Google sebesar US$1,7 miliar. Kini Yandex diperdagangkan secara publik di NASDAQ di AS dengan simbol YNDX. Valuasi pasar mereka diprediksi mencapai US$ 12 miliar.
Share: