
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Kalangan perempuan masih sedikit bekerja di bidang keamanan siber (cybersecurity).
Di acara Security Congress (ISC)2 yang diadakan di Florida, Amerika Serikat, beberapa hari lalu, sejumlah pembicara juga ahli cybersecurity mengatakan, kalangan perempuan lebih mengambil karier di bidang lain lantaran di sektor cybersecurity membuat mereka “merasa tidak disukai”.
Deidre Diamond, pendiri dan CEO CyberSN, mengatakan, kalangan perempuan cenderung menghindari atau meninggalkan pekerjaan yang bersifat teknis dan pembuktian diri.
”Kami telah mendengar selama bertahun-tahun, bahwa para perempuan merasa mereka harus bekerja dua kali lebih keras dan membuktikan diri mereka dalam pekerjaan teknis secara teratur,” tutur dia seperti dikuti dari Infosecurity Magazine, Jumat (1 November 2019).
Diamond, yang mendirikan BrainBabe untuk mempromosikan keberagaman dalam cybersecurity, mengatakan, kalangan laki-laki cenderung mengambil peran untuk pekerjaan yang sebenarnya bisa diselesaikan oleh perempuan.
“Siapa yang tidak ingin bekerja di tempat yang nyaman dan merasa dihargai? Jika itu tidak terjadi, maka itu hal yang tragis, terutama di zaman sekarang ini, dipekerjaan ini, di Amerika Serikat,” kata Diamond.
Menurut Diamond, kesetaraan gender dalam keamanan siber membutuhkan kerja di kedua belah pihak. Jika 90 persen pasar kerja itu didominasi laki-laki, laki-laki harus menjadi pihak yang melakukan perubahan. Mereka harusnya menjadi pihak yang memberdayakan perempuan.
Crystal Williams, manajer sertifikasi dan akreditasi keamanan informasi di Women's Society of Cyberjutsu, mengatakan, banyak perempuan yang telah bekerja di perusahaan keamanan siber, tapi memilih mengundurkan diri karena dominasi kaum laki-kai.
“Belum lagi, harga diri mereka dan tingkat kepercayaan diri mereka begitu rendah. Dan, ada orang-orang yang melihat bahwa mereka yang memiliki rasa tidak nyaman, justru memanfaatkannya,” Williams menambahkan.
Sarah Lee, pendiri ilmu komputer K12 dan program penjangkauan keamanan siber, Bulldog Bytes, mengatakan, kunci untuk membuat perempuan percaya diri dalam kemampuan teknis adalah mengajarkan mereka keterampilan penting pada usia muda dalam lingkungan seks tunggal—tidak dicampur dengan laki-laki.
“Kami banyak mengadakan lokakarya khusus, misalnya, menjaga para gadis dalam kelompok yang terpisah. Sebab, ketika kami melibatkan mereka [perempuan dan laki-laki] dalam teknologi, anak-anak laki-laki cenderung untuk mengambilalih dan memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan,” ujar lee.
Williams sependapat dengan ide tersebut. Menurut dia, salah satu alasan untuk memisahkan gadis-gadis itu adalah agar membangun tingkat kepercayaan diri dan harga diri.
"Begitu mereka mengembangkan tingkat kepercayaan diri itu, Anda tidak perlu khawatir ketika mereka bekerja di lingkungan yang didominasi oleh laki-laki. Karena dengan keahlian mereka, mereka tahu jika dirinya bisa melakukan hal itu” kata Williams.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: