IND | ENG
Pemerintah Israel Klaim Tak Terlibat Aksi Spionase NSO Group

Ilustrasi | Foto: Cyberthreat/Faisal Hafis (M)

Pemerintah Israel Klaim Tak Terlibat Aksi Spionase NSO Group
Andi Nugroho Diposting : Minggu, 03 November 2019 - 15:50 WIB

Jerusalem, Cyberthreat.id – Pemerintah Israel membantah terlibat dalam dugaan peretasan yang dilakukan oleh produsen alat spyware, NSO Group, yang juga berasal dari Israel.

"NSO adalah pemain swasta yang menggunakan kemampuan yang dimiliki orang Israel, ribuan orang berada di bidang dunia maya, tetapi tidak ada keterlibatan pemerintah Israel di sini, semua orang mengerti bahwa, ini bukan tentang negara Israel," kata Menteri Keamanan Israel Zeev Elkin kepada 102.FM Tel Radio Aviv.

Selasa kemarin, WhatsApp menggugat NSO Group yang menuduhnya membantu mata-mata pemerintah membobol ponsel sekitar 1.400 pengguna di empat benua. Sasaran NSO yaitu diplomat, aktivis politik, jurnalis dan pejabat senior pemerintah.

Raksasa perangkat lunak milik Facebook itu menuduh bahwa NSO Group membangun dan menjual platform peretasan yang mengeksploitasi kelemahan di server miliknya. Peretasan itu diperkirakan terjadi antara 29 April hingga 10 Mei 2019.

NSO membantah tuduhan itu. NSO mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya “tidak bisa mengungkapkan siapa yang menggunakan teknologinya secara spesifik.”

Berita Terkait:

Sebelumnya, mereka telah membantah melakukan kesalahan, dengan mengatakan bahwa produk-produknya hanya dimaksudkan untuk membantu pemerintah menangkap teroris dan penjahat.

Peneliti cybersecurity telah meragukan klaim tersebut selama bertahun-tahun dan mengatakan bahwa produk NSO digunakan terhadap berbagai target, termasuk kritikus di negara-negara di bawah pemerintahan otoriter.

Citizen Lab, kelompok pengawas independen yang bekerja dengan WhatsApp untuk mengidentifikasi target peretasan, mengatakan pada Selasa kemarin setidaknya 100 korban adalah tokoh masyarakat sipil seperti jurnalis dan aktivis, bukan mereka yang termasuk penjahat.

John Scott-Railton, seorang peneliti senior di Citizen Lab, mengatakan tidak mengherankan bahwa pejabat asing akan menjadi sasaran serangan siber.

"Adalah rahasia umum bahwa banyak teknologi yang dicap untuk penyelidikan penegakan hukum digunakan untuk spionase negara-ke-negara dan politik," kata Scott-Railton.


Berita Terkait:


WhatsApp digunakan oleh 1,5 miliar orang setiap bulan dan sering disebut-sebut memiliki tingkat keamanan tinggi, termasuk pesan terenkripsi ujung ke ujung yang tidak dapat diuraikan oleh WhatsApp atau pihak ketiga lainnya.

Dalam wawancara tersebut, Elkin mengatakan, "Saya tidak melihat dampak politis dari insiden ini."

"Memang benar bahwa ketika orang melakukan hal-hal yang dilarang, saya tidak punya cara untuk menentukan apakah mereka memang melakukan sesuatu yang dilarang, maka sistem peradilan di sini dan di negara-negara lain akan ‘melemparkan buku’ [baca: memberi hukuman]  kepada mereka,” ia menambahkan seperti dikutip dari Reuters, Jumat (1 November 2019).

#whatsapp   #serangansiber   #cyberattack   #spionase   #spyware   #hacker   #NSOGroup   #israel

Share:




BACA JUGA
Microsoft Ungkap Aktivitas Peretas Rusia Midnight Blizzard
Hacker China Targetkan Tibet dengan Rantai Pasokan, Serangan Watering-Hole
Penjahat Siber Persenjatai Alat SSH-Snake Sumber Terbuka untuk Serangan Jaringan
Peretas China Beroperasi Tanpa Terdeteksi di Infrastruktur Kritis AS selama Setengah Dekade
Google Cloud Mengatasi Kelemahan Eskalasi Hak Istimewa yang Berdampak pada Layanan Kubernetes