
Ilustrasi | Foto: Freepik.com
Ilustrasi | Foto: Freepik.com
Cyberthreat.id – WhatsApp menggugat perusahaan asal Israel, NSO Group, yang dikenal sebagai pembuat perangkat lunak mata-mata (spyware) bernama Pegasus.
WhatsApp menggungat NSO karena alat spyware-nya telah dipakai pemerintah di sejumlah negara untuk mengawasi para jurnalis, aktivis hak asasi manusia, dan pengacara.
Siapa NSO Group?
Perusahaan ini didirikan pada 2010 oleh dua orang Israel, yaitu Shalev Hulio dan Omri Lavie. NSO adalah perusahaan teknologi yang berkantor pusat di tepi laut Israel, Herzliya, dekat Tel Aviv. Perusahaan disebutkan, menurut Security Week, yang diakses Rabu (30 Oktober 2019), memiliki karyawan 600 orang di dunia.
NSO memiliki produk Pegasus, alat yang sangat invasif dan disebut-sebut dapat mengaktifkan kamera dan mikrofon ponsel target serta mengakses data di perangkat; alat ini secara efektif mengubah ponsel menjadi mata-mata.
Laporan tahunan NSO Group pada Februari 2019 mendaftarkan Q Cyber yang berbasis di Israel sebagai satu-satunya direktur aktif dan pemegang saham; ini juga menurut tuntutan hukum yang diajukan oleh WhatsApp.
Berita Terkait:
Ada apa dengan WhatsApp?
Selasa kemarin, WhatsApp menggugat NSO Group dan Q Cyber; menuduh mereka menggunakan layanan pesan untuk melakukan cyberespionage.
Gugatan yang diajukan di pengadilan federal California, AS itu menyatakan bahwa NSO Group mencoba menginfeksi sekitar 1.400 perangkat yang ditargetkan dengan malware untuk mencuri informasi berharga dari mereka yang menggunakan aplikasi perpesanan.
Menginfeksi smartphone atau gawai lain yang digunakan untuk pesan WhatsApp berarti konten pesan yang dienkripsi selama transmisi dapat diakses setelah tidak diacak untuk penerima.
Kepala WhatsApp Will Cathcart mengatakan gugatan itu diajukan setelah penyelidikan menunjukkan peran perusahaan Israel dalam serangan siber.
Gugatan itu mengatakan para penyerang "merekayasa balik aplikasi WhatsApp dan mengembangkan program untuk memungkinkan mereka meniru lalu lintas jaringan WhatsApp yang sah untuk mengirimkan kode berbahaya" dan mengambil alih perangkat.
Berita Terkait:
Bantahan NSO Group dan kasus Khashoggi
Dalam sebuah wawancara awal tahun ini dengan surat kabar Israel Maariv, Hulio ditanya tentang laporan bahwa spyware miliknya digunakan untuk mengintai Jamal Khashoggi sebelum pembunuhan terhadap wartawan Washington Post itu terjadi pada Oktober 2018 di Istanbul.
"Sebagai manusia dan sebagai seorang Israel, apa yang terjadi pada Khashoggi adalah pembunuhan yang mengejutkan," kata CEO perusahaan itu.
"Saya dapat memberi tahu Anda pada catatan bahwa Khashoggi tidak ditargetkan oleh produk atau teknologi NSO, termasuk mendengarkan, memantau, melacak lokasi, dan pengumpulan intelijen."
Berita Terkait:
Sebuah serangan di Meksiko?
Di Meksiko, tempat wartawan investigasi Javier Valdez ditembak mati di jalan pada siang hari bolong pada 2017, wartawan dan aktivis terkemuka setempat mengatakan pemerintahan mantan presiden Enrique Pena Nieto diduga telah menargetkan Valdez menggunakan Pegasus.
The New York Times melaporkan pada saat itu bahwa setidaknya tiga agen federal Meksiko telah membeli sekitar US $ 80 juta spyware dari NSO Group sejak 2011.
Dalam satu kasus, para ahli yang menyelidiki hilangnya 43 siswa di Meksiko pada tahun 2014 juga menjadi sasaran spyware.
Pada 2016, Apple mengeluarkan pembaruan keamanan setelah para peneliti mengatakan aktivis HAM Uni Emirat Arab Ahmed Mansoor juga diduga menjadi sasaran oleh otoritas UEA menggunakan Pegasus.
Situs web NSO Group mengatakan perusahaan memiliki "standar etik yang ketat untuk semua yang kami lakukan." Perusahaan mengklaim memiliki proses pemeriksaan penjualan yang menggabungkan perizinan oleh otoritas kontrol ekspor Israel dengan tinjauan internal oleh komite etika bisnis.
Perusahaan telah menyatakan bahwa pihaknya hanya melisensikan perangkat lunaknya kepada pemerintah untuk "memerangi kejahatan dan teror."
Share: