
Cyberthreat.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj mengatakan santri di era Revolusi Industri 4.0 tidak boleh kehilangan jati diri yang berakhlak baik, hormat kepada kiai, dan menjaga metode dakwah Walisongo.
"Santri juga harus kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap nilai-nilai baru yang baik sekaligus teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai lama yang baik," kata Said Aqil saat peringatan Hari Santri Nasional 2019 di Jakarta dilansir Antara, Selasa (22 Oktober 2019).
Santri, kata dia, dituntut cerdas dalam mengembangkan argumen Islam moderat yang sesuai dengan semangat membangun simbiosis Islam dan kebangsaan. Apalagi kondisi santri sekarang berbeda, dimana era digital membuat terjadinya suatu kondisi keterbukaan dan arus informasi begitu deras dan masif.
"Islam tidak diajarkan dalam bungkusnya, tetapi isinya. Bungkusnya dipertahankan dalam wadah budaya Nusantara, tetapi isinya diganti dengan ajaran Islam," kata dia.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria, mendorong pesantren mempelajari big data atau perkembangan teknologi digital.
Era 4.0, kata dia, menuntut santri tidak boleh monoton atau berdiri di titik "itu-itu saja".
Bahwa santri harus menguasai ilmu yang dibutuhkan peradaban 4.0 mulai dari Internet of Things (IoT), big data, Artificial Intelligence (AI), Cloud hingga Blockchain.
"Misalnya, untuk big data, berapa alumnusnya yang jadi guru, pengusaha, dan birokrat. Semakin banyak data, semakin detail data tersebut akan semakin bagus sehingga data juga menjadi salah satu bahan pertimbangan pesantren sebelum membuat keputusan," kata Hariqo.
Pesantren sebagai produsen santri juga harus mengakomodir ilmu pengetahuan 4.0 terhadap anak didiknya. Hariqo menyinggung kemampuan pesantren yang sudah bisa memproduksi dan mendistribusikan informasi, distribusi konten serta berbagai produk digital lainnya.
Sebagai contoh, Hariqo menyebut ratusan video produksi Gontor TV yang sudah ditonton 43 juta viewer di platform digital.
"Ke depan, sejumlah pesantren agar terus memproduksi konten, terutama dengan bahasa asing, sehingga pesantren bisa diakses oleh warga dunia."
Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menegaskan komitmen untuk membangun sumber daya manusia (SDM) dalam kepemimpinannya periode 2019-2024. Apalagi wakil presiden saat ini, KH Ma'ruf Amin lahir dan tumbuh dari kalangan ulama.
Jokowi mengatakan pembangunan SDM akan menjadi prioritas utama. Membangun SDM yang pekerja keras, dinamis, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan semua dilakukan dengan kolaborasi.
"Itupun tidak bisa diraih dengan cara-cara lama, cara-cara baru harus dikembangkan. Kita perlu endowment fund yang besar untuk manajemen SDM kita. Kerja sama dengan industri juga penting dioptimalkan. Dan juga penggunaan teknologi yang mempermudah jangkauan ke seluruh pelosok negeri," kata Jokowi.
Share: