
Kepala BSSN Hinsa Siburian | Foto: Faisal Hafis
Kepala BSSN Hinsa Siburian | Foto: Faisal Hafis
Jakarta, Cyberthreat.id - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen (Purn) Hinsa Siburian mengimbau masyarakat jangan mudah terpancing dengan banyaknya hoaks dan disinformasi yang bertujuan merusak serta mengganggu ketenteraman berbangsa dan bernegara.
"Kita semua bekerjasama dengan semua stakeholder dan kita harap masyarakat jangan terpengaruh, tepancing dengan isu-isu yang belum jelas atau belum tentu kebenarannya," kata Hinsa saat membuka Focus Group Discussion (FGD) Manajemen Krisis Siber di Jakarta, Kamis (10 Oktober 2019).
Hinsa mencontohkan mudahnya masyarakat terpancing waktu aksi demonstrasi mahasiswa 25 September 2019. Bahkan, aksi tersebut dilanjutkan oleh para pelajar yang bergerak atas informasi dan pesan yang menyebar secara masif di media sosial dan percakapan pribadi seperti WhatsApp.
"Kita kan sudah lihat beberapa waktu lalu sampai anak-anak kita juga turun demo. Mereka bergerak karena hoaks yang menyebar begitu cepat dan masif. Itulah yang saya katakan serangan siber non-fisik itu."
Hinsa untuk kesekian kalinya mengingatkan kembali bahwa serangan siber yang terus berkembang telah dirumuskan menjadi dua pintu.
Pertama, serangan siber yang menyerang sistem dan infrastruktur kritis yang sudah dipetakan oleh BSSN. Mulai dari infrastruktur kritis sektor finansial, transportasi, kesehatan, layanan Pemerintah, sektor ekonomi digital dan lain-lain.
Kedua, serangan siber yang menyerang cara berpikir atau langsung menargetkan otak manusia. Serangan tipe ini, kata dia, terus berkembang dengan pola membanjiri ruang publik dengan informasi dan pesan yang provokatif.
Sebagai informasi, serangan hoaks dan disinformasi selama ini dikenal secara konten berupa pencurian informasi terkait integritas, mengubah konten secara integritas hingga menghapus berita dalam konteks perang informasi.
Kini, pola itu akan berubah dengan Deepfake yang dilakukan secara massal.
"Menurut saya, untuk menangkal serangan siber seperti ini kita harus kembali ke kebudayaan kita. Masyarakat indonesia dikenal punya nilai-nilai adat istiadat kemudian masuk di agama. Agama mengajarkan kita jangan berbohong dan jangan mudah dibohongi. Jadi, karakter bangsa kita itu harus kuat," ujar Hinsa.
Share: