
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Mayoritas perusahaan di Singapura mengaku pernah mengalami pelanggaran (kebocoran) data sensitif ke publik dalam setahun terakhir. Di sisi lain, mereka juga mulai mengkhawatirkan terkait dengan transformasi digital dan penetrasi jaringan 5G.
Demikian salah satu poin hasil survei yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber (cybersecurity) Carbon Black Inc asal Massachusetts, Amerika Serikat, seperti dikutip dari ZDNet, Selasa (1 Oktober 2019). Dalam eksekusi di lapangan, Carbon Black meminta perusahaan riset Opinian Matters untuk melalukan survei.
Alasan kekhawatiran pelaku usaha atas jaringan 5G (1) karena mereka percaya penetrasi 5G justru memfasilitasi lebih banyak kejahatan siber yang merusak (responden 55 persen). Lalu, (2) jaringan 5G akan menciptakan lebih banyak peluang terjadinya serangan siber (54 persen).
Selain itu, (3) mereka percaya jaringan 5G dan transformasi digital akan menyebabkan kurangnya visibilitas atas jaringan organisasi (34 persen).
Survei tersebut melibatkan lebih dari 250 kepala petugas informasi dan keamanan di Singapura di berbagai divisi, termasuk keuangan, kesehatan, pemerintah, dan ritel.
Dalam survei juga ditemukan, bahwa telah terjadi peningkatan frekuensi serangan yang sebagian besar di sektor pemerintah dan industri makanan dan minuman (93 persen).
Selanjutnya, serangan pada manufaktur dan teknik (33 persen), penyedia layanan kesehatan (54 persen), dan lembaga jasa keuangan (56 persen).
Menyangkut jumlah serangan, responden menyebutkan pelanggaran sekali berjumlah 42 persen, lima kali 34 persen, dan 10 kali sebanyak 15 responden.
Dalam survei juga mengidentifikasi serangan ransomware sebagai serangan yang paling berhasil, pelanggaran keuangan, serangan phishing dan aplikasi web.
“Terlepas dari tingginya volume serangan siber, 84,5 persen perusahaan menyatakan lebih percaya diri pada kemampuan mereka untuk menggagalkan upaya serangan itu saat ini dibandingkan tahun lalu,” demikian survei tersebut.
Akibat dari semua serangan siber yang terjadi, mayoritas perusahaan Singapura memiliki rencana untuk meningkatkan anggaran keamanan mereka pada tahun depan (99 persen).
Namun, “Mereka merasa sulit untuk merekrut dan melatih spesialis keamanan,” demikian survei tersebut.
Kepala Strategi Keamanan Carbon Black, Rick McElroy, mengatakan, pelaku bisnis tampaknya mulai bisa menyesuaikan diri dengan serangan siber yang banyak terjadi belakangan ini. Kesadaran semakin tinggi terkait dengan ancaman eksternal dan risiko kepatuhan, kata dia, juga mendorong bisnis untuk menjadi lebih proaktif dalam mengelola risiko siber.
Dalam pernyataan terpisah, Otoritas Moneter Singapura (MAS) mendesak untuk lembaga keuangan untuk menerapkan pertahanan "berlapis-lapis yang efektif" untuk memerangi risiko serangan siber. Langkah-langkah tersebut harus mencakup tinjauan kode sumber, pemeriksaan integritas sistem, dan deteksi anomali jaringan.
Redaktur: Andi Nugroho
Share: