
Ilustrasi transaksi digital
Ilustrasi transaksi digital
Jakarta, Cyberthreat.id - Peneliti Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan pasar uang elektronik akan semakin berkembang dari sisi jumlah transaksi. Namun ia melihat hanya pemain besar yang akan berkembang sementara pemain kecil tersingkir.
"Yang menarik jumlah pemain (uang elektronik) makin terkonsentrasi ke tiga pemain utama yaitu OVO, Gopay dan Dana," kata Bhima kepada Cyberthreat.id, Minggu (29 September 2019).
Salah satu alasan pemain besar bertahan menurut Bhima adalah kemampuan untuk promosi besar-besaran. Istilahnya kemampuan 'bakar duit' yang dimiliki OVO, Gopay dan Dana sebagai padat modal sementara jumlah pemainnya juga terbatas.
Selain itu, kata dia, tipikal bermain di sektor uang elektronik jauh berbeda dengan bisnis digital lainnya. Promo secara besar-besaran membuat pemain baru langsung mundur jika melihat strategi bisnis yang dijalankan para raksasa.
"Sampai saat ini jumlah transaksi cashless di Indonesia masih kurang dari 2 persen dari total transaksi. Itu menandakan peran uang elektronik masih dalam tahap awal," ujar Bhima.
Satu lagi pemain besar uang elektronik di Tanah Air adalah LinkAja yang berada di bawah naungan BUMN. Menurut Bhima, potensi LinkAja menyaingi tiga raksasa lainnya sangat terbuka meskipun straregi sosialisasi dan pemasarannya berbeda.
Sejauh ini pengguna uang elektronik masih terkonsentrasi di perkotaan, kelas menengah dan di tempat dengan jaringan internet yang cepat. Menurut Bhima, untuk mendorong inklusi keuangan di Pedesaan dibutuhkan uang elektronik dengan teknologi yang berbeda.
"Harus lebih adaptif dengan infrastruktur yang terbatas dan terpenting bisa diakses semua masyarakat desa."
Akhir 2018 data Bank Indonesia (BI) menyatakan volume transaksi uang elektronik meningkat drastis lebih dari 200 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tahun 2017 transaksi uang elektronik tercatat sebanyak 943,3 juta transaksi. Pada akhir 2018 jumlah transaksi uang elektronik meningkat drastis menjadi sebanyak 2,9 miliar transaksi.
Untuk nominal transaksi uang elektronik, pada tahun 2017 tercatat perputaran uang sebesar Rp 12,4 triliun. Setahun berikutnya meningkat drastis tiga kali lipat menjadi Rp 47,2 triliun di akhir tahun 2018.
Share: