
Diskusi bertajuk The Bumpy Road to Personal Data Protection di Indonesia Internet Expo and Summit (IIXS) 2019, Jakarta, Sabtu (28 September 2019) | Foto: Faisal Hafis
Diskusi bertajuk The Bumpy Road to Personal Data Protection di Indonesia Internet Expo and Summit (IIXS) 2019, Jakarta, Sabtu (28 September 2019) | Foto: Faisal Hafis
Jakarta, Cyberthreat.id - Wakil presiden Sistem Informasi Manajemen PT Pindad (Persero), Kuncoro Budhi Wisnu, menekankan pentingnya kolaborasi dalam tata kelola ruang siber. Menurut dia, tanpa kolaborasi, ruang siber menjadi sangat rentan sementara ketergantungan dunia nyata terhadap ruang siber makin tinggi.
Kuncoro menuturkan, suatu kali sistem Pindad pernah memiliki kerentanan yang langsung diberitahukan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Dari situ, kolaborasi kedua pihak jauh lebih intensif dan terus berkembang.
"Waktu itu kami bikin sistem. Nah, port di sistem kami ada yang sengaja dibuka dan tidak sengaja terbuka. Lalu tiba-tiba ada bugs yang langsung diemail oleh BSSN," kata Kuncoro saat menjadi narasumber di Indonesia Internet Expo and Summit (IIXS) 2019 di JCC, Jakarta, Sabtu (28 September 2019).
Saat ini kolaborasi antara Pindad dan BSSN sudah masuk ke level saling support dan pengembangan. Kedua pihak punya kerja sama National Defend High Tech Industries di industri strategis seperti PT PAL, PT DI, PT LEN, PT Pindad dan lain-lain. Semua dilibatkan untuk berkolaborasi bareng dalam rencana pengamanan sistem informasi.
"Jadi ada standarisasi dimana kami duduk bareng dengan BSSN dan harapannya ke depan masuk ke R&D. Saat ini kami juga lakukan pertukaran orang dan saling mengisi," ujarnya.
Baik BSSN dan Pindad saling mengingatkan agar kedua belah pihak tidak sibuk masing-masing. Persis seperti kolaborasi yang dilakukan Singapura.
"Karena intinya industri harus jalan kolaborasinya. Singapura saat ini sudah seperti itu, tapi tentu tantangan lebih besar di Indonesia. Itu sebabnya kita butuh kerja keras bersama."
Juru bicara BSSN, Anton Setiyawan, senada dengan mengatakan pihaknya telah bekerja sama secara internasional dan aktif di forum. Forum, kata dia, ajang bertukar informasi terutama dalam update informasi dan kerentanan.
"Contohnya kami terus dapat report dari Jepang setiap bulan soal kerentanan. Artinya kita dapat data dan informasi. Semua pihak juga diminta meningkatkan kapabilitas dan tata kelola bersama," kata Anton.
Di dalam negeri BSSN juga berupaya membangun sistem keamanan informasi di masing-masing institusi. Jika BSSN mendapatkan informasi dan deteksi, maka kewajibannya memberitahukan ke instansi lain.
"Secara nasional BSSN itu kembangkan cybersecurity awareness dengan berkolaborasi. Ketika sebuah kasus menjadi cyber crime, itu masuk ke Polri. Begitu seterusnya," ujar dia.
Share: