IND | ENG
Berikut Profesi di Dunia Siber dengan Gaji Menggiurkan  

Ilustrasi | Foto: Cyberthreat.id/Rahmat Herlambang

Berikut Profesi di Dunia Siber dengan Gaji Menggiurkan  
Andi Nugroho Diposting : Rabu, 25 September 2019 - 12:33 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id – Head of Information Security Kaspersky, Andrey Evdokimov, mengatakan, keahlian sumber daya manusia di bidang keamanan siber (cybersecurity) di dunia masih kurang.

Menurut dia, ada kesenjangan hampir tiga juta posisi dalam industri ketenagakerjaan secara global. Terlebih, disusul dengan meningkatnya permintaan untuk perlindungan siber di semua industri.

“Digitalisasi, data sensitif, dan privasi adalah vektor teknologi terbaru yang menciptakan permintaan akan spesialis teknis tertentu,” kata Andrey dalam pernyataannya yang diterima, Selasa (24 September 2019).

Menurut dia, masih banyak peluang profesi di dunia siber yang masih membutuhkan tenaga kerja. Berikut ini saran dari Kaspersky:

Hukum dan Keamanan Siber

Spesialisasi ini menjadi semakin menarik karena mencakup perlindungan data dan privasi, kepatuhan dan undang-undang perlindungan data hingga bidang interdisipliner keamanan siber dan hukum.

“Spesialis yang bekerja dalam bidang privasi dan perlindungan data harus memiliki keahlian yang sama baik dalam hukum dan teknologi keamanan siber untuk membantu perusahaan mengatur penyimpanan, pemrosesan, serta perlindungan data digital yang sesuai dengan undang-undang,” kata Andrey.

Masalah yang terjadi adalah bahwa sebagian besar spesialis yang bekerja di bidang ini lebih terampil dalam bidang hukum dibandingkan teknologi.

Misalnya, petugas perlindungan data mengetahui teori dengan sangat baik, mereka dapat menjelaskan dengan baik kepada perusahaan tentang bagaimana pemrosesan dan perlindungan data harus dilakukan, tetapi tidak dapat menerapkan bagaimana melakukannya secara teknis.

“Itulah sebabnya mengapa para profesional di bidang hukum komputerisasi memiliki upah yang cukup baik di pasar keamanan TI,” kata dia.

Rata-rata staf penyesuaian dan perlindungan data digaji sekitar US$ 80.000 (sekitar Rp 1 miliar) per tahun menurut PayScale atau Glassdoor. Sementara, staf bidang privasi bisa mendapatkan rata-rata US$ 113.233 (Rp 1,5 miliar) per tahun.

Arsitektur Keamanan Siber

Profesi dalam bidang keamanan siber semakin terkenal, tapi ternyata masih terdapat kesulitan untuk merekrut sumber dayanya.

Para spesialis ini harus mengetahui dengan baik seluruh aspek keamanan siber di perusahaan, baik itu perlindungan endpoint atau mekanisme serangan anti target.

“Mereka mungkin tidak perlu benar-benar harus memiliki pengalaman sebagai ahli yang berdedikasi, tetapi memang dibutuhkan pengetahuan yang cukup untuk membangun sistem perlindungan yang tepat,” kata Andrey.

Mekanisme kerja ini menuntut pengetahuan andal dan pandangan menyeluruh yang kompleks tentang bagaimana setiap bagian infrastruktur saling bekerja satu sama lain, serta memiliki keterampilan manajemen yang kuat.

Gaji profesi ini menurut Payscale sekitar US$ 122.668 (Rp 1,7 miliar) per tahun

Analisis Big Data

Terdapat spesialisasi yang lebih eksklusif, di mana tidak banyak perusahaan membutuhkan keterampilan tersebut. Salah satunya adalah peran analis big data.

Mereka diperlukan di perusahaan-perusahaan yang membutuhkan perlindungan siber tingkat lanjut, serta di organisasi yang menawarkan layanan keamanan siber spesifik, seperti sistem integrator atau vendor keamanan siber.

“Analisis big data dan pemodelan matematika digunakan seperti e-commerce, segala jenis layanan digital, dan bank,” kata Andrey.

Dalam keamanan siber, big data membantu mendeteksi anomali dalam perilaku objek yang berbeda di antara white noise konstan, serta menciptakan algoritma dan menggambarkan tindakan yang diperlukan jika terjadi anomali.

“Para spesialis ini harus memiliki keterampilan analitis, matematika, statistik dan pemodelan yang sangat kuat, serta pengetahuan mendalam tentang ancaman dan serangan dunia siber,” kata dia.  

Gaji profesi ini diperkirakan US$ 117.345 (Rp 1,6 miliar) per tahun

Deteksi dan Respons

Di pusat operasi keamanan (Security Operations Centers), selalu ada permintaan untuk karyawan, tetapi kualifikasinya mengalami perubahan. Deteksi dan respons kini lebih populer untuk menggantikan paradigma pencegahan ancaman.

“Tidak mungkin untuk mencegah 100 persen serangan dan pelanggaran. Sebaliknya, perusahaan harus dapat melacak ancaman yang akan datang sedini mungkin, meminimalkan konsekuensi mereka, dan bertahan serta berjuang dalam kondisi yang akan selalu berubah,” kata Andrey.

Oleh karena itu, SOC memerlukan spesialis yang mampu mendeteksi ancaman dan tahu apa yang harus dilakukan di luar deteksi awal. Tidak hanya memantau, tapi juga membuat aturan deteksi, dapat menguraikan serangan atau kesalahan perilaku pengguna menjadi algoritma untuk mendeteksi peristiwa semacam itu.

#cybersecurity   #pekerjaanduniasiber   #profesisiber   #kaspersky   #penelitisiber

Share:




BACA JUGA
Politeknik Siber dan Sandi Negara Gandeng KOICA Selenggarakan Program Cyber Security Vocational Center
Hacker Pro Palestina Klaim Retas Data Puluhan Perusahaan Israel
Kaspersky: 1 dari 5 Pengguna Internet Indonesia Jadi Sasaran Serangan Siber
Penyebab Kanada Blokir WeChat China dan Antivirus Kaspersky Rusia dari Perangkat Pemerintah
Kanada Larang Penggunaan Aplikasi Kaspersky dan Tencent