IND | ENG
Pelanggan 5G ASEAN Diprediksi Capai 200 Juta pada 2025

Ilustrasi | Foto: Freepik

Pelanggan 5G ASEAN Diprediksi Capai 200 Juta pada 2025
Eman Sulaeman Diposting : Sabtu, 14 September 2019 - 15:00 WIB

Jakarta,Cyberthreat.id- Cisco dan lembaga konsultan A.T. Kearney memprediksi, pelanggan 5G di ASEAN akan mencapai lebih dari 200 juta pelanggan pada 2025.

Melalui studi yang bertajuk, 5G di ASEAN: Menghidupkan kembali pertumbuhan di pasar perusahaan dan konsumen, penelitian ini juga memprekirakan, penetrasi 5G akan mencapai 25 hingga 40 persen di kawasan ASEAN tahun 2025.

Sementara, Singapura diprediksi akan menjadi negara dengan tingkat penetrasi tertinggi, yaitu mencapai 50 persen pada 2025.

"Peluncuran layanan 5G yang diharapkan datang pada waktu yang tepat untuk operator telekomunikasi. Penggunaan data seluler tumbuh dengan cepat karena pengguna mengkonsumsi jumlah layanan dan konten yang meningkat pada perangkat pribadi mereka,” kata Naveen Menon, Presiden ASEAN Cisco melalui siaran pers, Sabtu, (14 September 2019).

Menurut studi ini juga, teknologi 5G menjanjikan kecepatan hingga 50 kali lebih cepat, 10 kali lebih responsif, dan konektivitas daya yang jauh lebih rendah daripada 4G.

“Ini akan didorong oleh kombinasi dari tiga fitur khas, throughput tinggi, latensi sangat rendah, dan konektivitas daya rendah,” tembah Menon.

Menon melanjutkan, kecepatan, latensi rendah, dan konektivitas yang ditingkatkan akan membantu operator telekomunikasi menyediakan koneksi Internet super cepat yang memungkinkan streaming video definisi tinggi, permainan cloud, dan pengiriman konten bertenaga augmented interaktif dan virtual reality (AR / VR) kepada konsumen.

Hal ini juga akan membantu mempercepat komersialisasi beberapa kasus penggunaan lanjutan 5G, termasuk smart city, Industri 4.0, penyebaran Internet of Things (IoT) skala besar, dan banyak lagi.

“Ini akan memungkinkan operator telekomunikasi untuk meningkatkan pendapatan baik dari konsumen maupun klien perusahaan,” tambah Menon.

Sementara, Dharmesh Malhotra, Managing Director ASEAN, Service Provider Cisco, mengungkapkan, operator telekomunikasi yang hendak mekuncurkan teknologi 5G, juga akan mengeluarkan investasi yang besar. Diperkirakan, operator akan menggelontorkan dana investasi mencapai US$ 10 miliar pada 2025.

“Peluncuran layanan 5G akan membutuhkan investasi besar dalam teknologi untuk memodernisasi jaringan yang mendasarinya. Di ASEAN, operator telekomunikasi kemungkinan akan terus berinvestasi dalam meningkatkan jaringan 4G mereka dan membangun kemampuan 5G secara bertahap,” ungkap Malhotra.

Tantangan Implementasi 5G

Studi ini juga menyoroti beberapa tantangan utama dalam implementasi teknologi 5G. Tantangan yang paling utama, yaitu soal ketersediaan spektrum frekuensi 5G.

Berdasarkan regulasi yang ditetapkan oleh lemabaga International Telecommunication Union (ITU), 5G akan dikerahkan di beberapa band, dengan tiga band utama, yaitu, pita rendah (700 MHz), pita tengah (3,5 hingga 4,2 GHz), dan pita tinggi pada spektrum mmWave (24 hingga 28 GHz).

Di ASEAN, banyak dari band-band ini sudah digunakan untuk menyediakan layanan lain. Low band digunakan untuk FTA TV, dan mid-band digunakan untuk layanan satelit.

Meskipun mmWave band tersedia, penyebaran perlu digabungkan dengan spektrum band rendah untuk memungkinkan cakupan yang layak secara ekonomi dari daerah pinggiran kota dan pedesaan serta akses dalam gedung.

Selain itu, operator perlu secara hati-hati membangun produk 5G mereka dan menentukan harga portofolio dan memigrasikan konsumen ke jaringan berkecepatan tinggi.

Konsumen dinilai sangat senang dengan 5G dan bersedia membayar untuk kualitas yang lebih baik, tidak seperti teknologi 3G dan 4G.

Namun, akan fatal bagi operator untuk terlibat dalam perang harga hanya untuk menarik lebih banyak pelanggan dengan harapan mereka dapat membebankan biaya lebih banyak pada tahap berikutnya.

Di sisi perusahaan, operator perlu membangun kemampuan baru dan menggabungkan konektivitas yang disempurnakan dengan solusi dan aplikasi untuk membantu pelanggan memahami, mengimplementasikan, dan meningkatkan kasus penggunaan yang meningkatkan nilai. Mereka juga harus bersaing dengan serangkaian pesaing baru yang menyediakan jaringan pribadi untuk perusahaan.

Nikolai Dobberstein, Mitra di A.T. Kearney dan penulis utama laporan tersebut, mengatakan, potensi keseluruhan peluncuran 5G di ASEAN sangat besar. Namun, untuk memenuhi potensi penuh, kawasan perlu menghadapi tantangan utama.

“Ini akan membutuhkan upaya terkoordinasi dari semua pemangku kepentingan - regulator, operator, dan perusahaan,” jelas Nikolai.

“Di antara masalah utama yang perlu diambil oleh regulator adalah, memastikan ketersediaan spektrum jangka pendek, mendorong berbagi infrastruktur dan memelihara pengembangan kemampuan keamanan cybersecurity nasional di seluruh kawasan,” tutur Nikolai.

 

 

 

 

#5G   #cisco   #ATKearney   #asean   #regulasi   #IoT   #singapura   #bandfrekuensi

Share:




BACA JUGA
Menteri Budi Arie: Penerapan IoT Tingkatkan Efisiensi Smart City
Optimalkan Layanan Publik, Kominfo Dorong Pemda Implementasikan Smart City
Cegah Penyalahgunaan, Wamen Nezar Patria: Pemanfaatan AI Perlu Diatur
Kill Switch Misterius Ganggu Operasi Botnet Mozi IoT
Terima Dubes Singapura, Menkominfo Bahas Kelanjutan Kerja Sama Ekonomi DigitalĀ