
Akun Twitter Mariela Castro, putri dari Pemimpin Partai Komunis Kuba juga mantan Presiden Kuba Raul Castro, juga termasuk yang diblokir Twitter. | Foto: cubanews.acn.cu
Akun Twitter Mariela Castro, putri dari Pemimpin Partai Komunis Kuba juga mantan Presiden Kuba Raul Castro, juga termasuk yang diblokir Twitter. | Foto: cubanews.acn.cu
Havana, Cyberthreat.id – Twitter Inc, salah satu raksasa media sosial asal Amerika Serikat, memblokir akun Raul Castro, mantan Presiden Kuba juga Pemimpin Partai Komunis Kuba.
Tak hanya akun Raul Castro, jejaring sosial microblogging tersebut juga memblokir akun Mariela Castro, putri Raul Castro, juga sejumlah akun media pro pemerintah Kuba. Bahkan, akun resmi Kementerian Komunikasi Kuba juga terkena blokir sejak Rabu (11 September 2012).
Pemblokiran tersebut memunculkan protes besar. Kalangan jurnalis yang tergabung dalam Cuban Union of Journalists menuding Twitter telah melakukan penyensoran besar-besaran.
Pemblokiran dilakukan di saat Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel berpidato di televisi pemerintah terkait krisis energi akibat sanksi Amerika Serikat.
Akun-akun yang diblokir, di antaranya akun program TV, Mesa Redonda, yang biasa dipakai Díaz-Canel tampil ke publik. Lalu, surat kabar milik pemerintah Granma Digital, stasiun radio negara Radio Rebelde, dan akun Kepala Komisi Hak-hak Gay Kuba, Mariela Castro.
Akun Presiden Díaz-Canel tidak diblokir. Di akun Twitter-nya, ia pun membagikan informasi tentang pernyataan serikat wartawan.
Akun Twitter Presiden Kuba Díaz-Canel
"Ini tindakan perang siber besar-besaran, yang direncanakan dengan jelas, yang bertujuan membatasi kebebasan berekspresi dari institusi dan warga negara Kuba serta membungkam para pemimpin revolusi," katan demikian pernyataan dari Cuban Union of Journalists demikian seperti dikutip dari Reuters.
Kuba adalah negara satu partai dan pemerintahannya memonopoli ruang publik dan media lokal. Banyak media pemerintah Kuba, jurnalis dan pejabat membatasi diri untuk me-retweet pernyataan resmi. Pengkritik pemerintah mengeluhkan "cybercatfishes", akun palsu yang berpura-pura mendukung pemerintah dan menyerang mereka yang tidak.
Beberapa jurnalis independen Kuba mencaci para pejabat Kuba karena mengeluhkan sensor, padahal mereka juga melakukannya di lain waktu.
"Pers resmi Kuba menemukan 'kebebasan berekspresi' berkat Twitter," tulis 14ymedio, media online Kuba yang dikelola oleh aktivis perempuan terkemuka Kuba, Yoani Sanchez.
"Sensor akhirnya dibalas sensor!" seru Coco Fusco, seorang seniman Kuba-Amerika.
Di kalangan pers, Kuba masuk daftar 10 negara di dunia yang menyensor akivitas pers, demikian menurut Committee to Protect Journalists (CPJ), yang berkantor pusat di New York.
Jurnalisme independen di Kuba memang masih ditoleransi, tetapi tidak legal dan beberapa situs web media alternatif yang kritis terhadap pemerintah diblokir. Warga lokal harus menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk mengaksesnya.
Menurut Elaine Diaz Rodriguez, pendiri media independen Kuba, Periodismo de Barrio, sensor yang sering dilakukan pemerintah Kuba, bukan berarti harus dibalas dengan sensor pula. "Bahwa pemerintah Kuba menciptakan akun palsu tidak berarti semua akunnya palsu," kata dia di Twitter.
Dalam beberapa tahun terakhir akses internet di Kuba begitu masif sejak masuknya internet seluler pada Desember 2018. Pejabat pemerintahan Kuba juga mulai bermain media sosial, salah satunya, Twitter pada tahun lalu, termasuk Presiden Kuba saat ini Miguel Díaz-Canel. Ia meminta warga untuk bisa berinteraksi dengan dirinya melalui Twitter.
Twitter, seperti diberitakan BBC, tidak menjelaskan secara spesifik, di mana letak pelanggaran dari akun-akun tersebut. Twitter hanya menyatakan, mereka melanggar kebijakan platform yang melarang pengguna menyebarkan informasi yang menggangu secara sengaja dengan menggunakan banyak akun. Pemilik akun yang relevan, kata Twitter, telah dihubungi dan diberi tahu alasan penangguhan tersebut.
Share: