
BJ Habibie
BJ Habibie
Jakarta, Cyberthreat.id - Pakar siber Vaksincom Alfons Tanujaya mengatakan, di era digital korelasi antara software dan hardware di dalam dunia penerbangan sangat tinggi dan sudah tidak bisa dipisahkan.
Software, kata dia, membantu mengendalikan hardware pesawat terbang dengan lebih presisi disertai akurasi yang sangat tinggi. Terlebih, Big Data penerbangan kini dianggap sebagai komoditas berharga peradaban digital.
Alfons mencontohkan saham Boeing yang saat ini sedang mengalami penurunan secara global. Salah satu penyebabnya karena software Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) mengalami error yang terjadi pada source code.
Akibatnya, output tidak sesuai dengan apa yang telah direncanakan seperti pesawat menukik tajam ke bawah.
Masalah software inilah yang di duga penyebab kecelakaan maut jatuhnya Lion Air JT 610 di lepas pantai utara Laut Jawa Karawang 29 Oktober 2018 dan jatuhnya Ethiopian Airlines ET 302 di Addis Ababa 10 Maret 2019.
"Coba perhatikan sekarang saham Boeing global sedang turun kenapa? Itu karena software-nya ada bug. Sekarang semuanya sudah komputerisasi kan," kata Alfons kepada Cyberthreat.id, Kamis (11 September 2019).
Karya terbesar Habibie, kata Alfons, adalah berhasil menciptakan pesawat terbang modern yang terbang lebih tinggi. Habibie mampu mencetak sebuah sistem hardware terbaik yang jika dikorelasikan dengan sistem software mumpuni, maka dunia penerbangan Indonesia bakal merasakan kemajuan luar biasa.
Pesawat terbang kuno, kata Alfons, memiliki banyak tombol dan perangkat yang cukup rumit. Jika hardware tersebut dikoneksikan ke internet melalui software, maka pesawat terbang di masa depan sudah bisa autopilot, simpel dan terhubung dengan infrastruktur digital.
"Kalau kita ingin lanjutkan spirit Pak Habibie yang sudah mewariskan pesawat seperti buatan Nurtanio, maka tugas kita ke depan mengembangkan software penerbangan ini," ujarnya.
Share: