
Seminar dan Workshop bertajuk Peningkatan Cyber Situational Awareness dengan Memanfaatkan Sistem Deteksi Dini Nasional di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Selasa (10 September 2019) | Foto: Rahmat Herlambang
Seminar dan Workshop bertajuk Peningkatan Cyber Situational Awareness dengan Memanfaatkan Sistem Deteksi Dini Nasional di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Selasa (10 September 2019) | Foto: Rahmat Herlambang
Depok, Cyberthreat.id - Pakar computer engineering Universitas Indonesia (UI), Profesor Kalamullah "Muli" Ramli, mengatakan Indonesia harus memahami pentingnya cyber situational awareness (CSA) sebagai bagian dari ketahanan siber nasional.
Banyak orang, kata dia, tidak mengetahui bahwa sejak satu dekade lalu sejumlah perang besar di era digital selalu diawali dengan perang siber.
"Tahun 2007 Israel itu memulai yang namanya electronic warfare untuk melumpuhkan jaringan pertahanan Suriah," kata Prof Muli di Seminar dan Workshop bertajuk Peningkatan Cyber Situational Awareness dengan Memanfaatkan Sistem Deteksi Dini Nasional di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Selasa (10 September 2019).
Salah satu akibat electronic warfare Israel adalah menjadikan sistem radar Suriah mati serta tidak mampu melihat pesawat tempur Israel lalu lalang di langit Suriah. Padahal target utamanya adalah serangan siber terhadap fasilitas nuklir Suriah.
Tahun 2008 perang antara Georgia kontra Russia di wilayah Ossetia. Prof Muli mengatakan sebelum Rusia menurunkan tentaranya ke medan tempur, beberapa bulan sebelum perang darat Rusia melancarkan kombinasi serangan siber terhadap fasilitas Pemerintah, infrastruktur kritis, web deface ke situs pemerintah hingga serangan melumpuhkan sistem militer Georgia.
Tahun 2015 Rusia melakukan hal yang sama saat memerangi Ukraina. Rusia, kata dia, mengawali physical conflict dengan rangakaian cyber conflict. Ketika serangan siber masuk ke jantung pertahanan musuh, maka dimulai serangan fisik saat sistem pertahanan lawan sudah lumpuh.
"Amerika Serikat mempelajari dengan serius pola perang siber Rusia tersebut sehingga data-datanya dikumpulkan, dianalisa dan hasilnya adalah serangan siber ternyata jauh lebih cerdas, lebih cepat dan tidak terdeteksi," ujarnya.
Indonesia, kata Muli, harus bersiap menghadapi kondisi tersebut. Artinya, bukan perang fisik saja, tapi perang yang menyerang fasilitas dan menguasai hajat hidup orang banyak.
"Anda harus tahu potensi serangan siber semakin masif dengan adanya IoT. Kini, IoT sudah masuk ke ruang-ruang kita, IoT masuk ke kamar-kamar kita, IoT masuk ke daerah yang paling privat. Lalu kalau diserang bagaimana. Jangan bayangkan serangan fisik, tapi listrik mati beberapa jam atau bank eror enam jam panik."
Di era digital Muli mengatakan dunia Maya dan dunia nyata menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Itu terbukti dari data-data perang atau transaksi ekonomi digital yang terus meningkat.
"Inggris kini sudah menganggap operasi di darat dan operasi di cyber menjadi satu kesatuan tak terpisahkan."
Share: