
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Jakarta, Cyberthreat.id – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memprediksi bahwa sebelum akhir tahun ini akan lahir satu perusahaan rintisan (startup) berlabel unicorn di bidang pendidikan.
"Ini perkiraan ya, karena saya tidak bisa pastikan, tergantung yang mau investasi," ujar Rudiantara di sela-sela acara Google Cloud Summit di Jakarta, Kamis (5 September 2019).
Namun, Rudiantara enggan menyebut nama startup tersebut. Ia mengatakan, pendanaan startup tersebut kini telah mencapai level seri D ke atas.
Unicorn adalah startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari US$ 1 miliar (sekitar Rp 14 triliun). Startup tersebut akan menjadi kandidat unicorn ke-5 di Indonesia. Saat ini, Indonesia telah memiliki empat startup unicorn, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.
Sementara itu, pemerintah telah memiliki program Next Indonesian Unicorn (NexICorn) untuk mengasilkan lebih banyak startup unicorn di Indonesia.
Komputasi awan
Menyangkut tren komputasi awan, yang juga dibahas dalam Google Cloud Summit itu, Rudiantara mengatakan, teknologi tersebut dapat menarik investasi asing ke Indonesia.
"Untuk menarik investasi internasional ke Indonesia, semua tahu kalau kita bicara mengenai network dan ICT, semua larinya ke cloud," ujar dia.
Efisiensi menjadi alasan perusahaan, terutama startup untuk tidak lagi menggunakan pusat data (data center) sendiri dan lebih memilih menggunakan cloud.
Pusat data cloud dengan teknologi tercanggih dan tingkat keamanan terbaik yaitu cloud tier 4 sangat diperlukan di Indonesia.
Rudiantara menyebut pasokan aliran listrik yang memadai untuk data center menjadi syarat hadirnya cloud tier 4 di Indonesia. Teknologi tersebut membutuhkan pasokan listrik dari dua perusahaan listrik yang berbeda.
"Di Indonesia sekarang ada PLN sama Cikarang Listrindo. Saya berharap kalau kita mau menarik lagi untuk data center agar pindah ke Indonesia, cara kita menyediakan listriknya juga harus diubah," kata dia.
Rudiantara mengatakan dukungan pemerintah sudah sesuai dengna iklim kompetitif standar internasional. "Google bikin data center tahun depan di sini, tapi juga network-nya harus bisa dijangkau ke mana-mana, makanya Palapa Ring ini salah satunya untuk mendukung ini," kata Rudiantara seperti dikutip dari Antaranews.com.
"Jadi, cloud-nya disediakan Google mungkin tempatnya di pulau Jawa, tapi pengguna cloud-nya bisa di Papua, di Sulawesi, di mana-mana di seluruh Indonesia.”
Share: