
Pendiri sekaligus CEO Qlue Rama Raditya dalam acara Asia IoT Forum 2019. | Foto: Arsip Qlue
Pendiri sekaligus CEO Qlue Rama Raditya dalam acara Asia IoT Forum 2019. | Foto: Arsip Qlue
Jakarta, Cyberthreat.id -- Qlue, aplikasi untuk pengelolaan ekosistem smart city di Indonesia memaksimalkan pengolahan dan analisis data menggunakan teknologi big data dalam dalam mengelola dan mewujudkan smart city di Indonesia.
Solusi big data dimanfaatkan untuk meningkatkan layanan dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, mengurangi biaya operasional, meningkatkan produktivitas, serta meningkatkan akuntabilitas dan kinerja perusahaan.
Founder dan CEO Qlue Rama Raditya mengatakan, dalam tiga tahun terkahir, masyarakat yang terdapat di kota-kota yang memanfaatkan aplikasi Qlue telah melaporkan lebih dari 1,5 juta laporan dan telah memberikan dampak positif di lingkungan.
Untuk mengelola data yang masuk melalui laporan tersebut, Qlue menggunakan big data untuk menganalisisnya.
“Qlue telah menerima lebih dari 1,5 juta laporan masyarakat di 15 kota melalui aplikasi Qlue, serta mendeteksi lebih dari 5,5 juta objek mulai dari kendaraan hingga orang melalui computer vision QlueVision, dan mengintegrasikan lebih dari 1.500 jenis data dalam QlueDashboard dalam tiga tahun terakhir,” kata Rama melalui siaran pers, Jumat (30 Agustus 2019).
Rama menambahkan, salah Pemerintahan Provinisi (Pemprov) yang memanfaatkan solusi dari Qlue adalah Pemprov DKI Jakarta.
Dalam tiga tahun, lanjut Rama, Qlue bersama Pemprov DKI Jakarta telah membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah hingga 87%.
Bahkan, pada semester pertama 2019, Qlue menerima 58.762 laporan dengan 91% laporan ditindaklanjuti oleh Pemprov DKI Jakarta. Tiga masalah utama yang saat ini masih dihadapi oleh masyarakat Jakarta adalah sampah liar, iklan liar, dan parkir liar dengan kontribusi sebesar 54%.
“Keseluruhan data tersebut dapat dimanfaatkan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk pengelolaan kota cerdas berkelanjutan dengan melakukan visualisasi data dan informasi yang penting bagi masyarakat, mulai dari data sebaran penyakit dan pencegahannya, hingga pemetaan wilayah kriminalitas di DKI Jakarta,” ujar Rama.
Tidak hanya itu, data dan analisis yang dihasilkan dalam implementasi smart city juga dapat diaplikasikan ke berbagai sektor. Sebagai contoh, Qlue membantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam proses pemulihan paska bencana dalam banjir Bima pada 2016 silam.
Para relawan banjir menggunakan Qlue untuk melakukan pemetaan kerusakan fasilitas umum dan kebutuhan pengungsi dengan cara pelaporan melalui aplikasi Qlue.
“Metode ini mampu mempercepat proses pemulihan kota Bima hingga 90% dalam tiga minggu, dari yang biasanya rata-rata berlangsung hingga dua bulan. Sejak saat itu, Qlue terus mendukung BNPB dalam setiap kegiatan pemulihan paska bencana,” ungkap Rama.
Rama menjelaskan, saat ini teknologi telah mengalami evolusi yang sangat pesat, sehingga mendorong para pelaku bisnis untuk terus melakukan inovasi. Karena inovasi teknologi, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan IoT, telah mengubah cara kerja tradisional dalam mengambil keputusan atau melakukan bisnis.
“Solusi teknologi kami seperti QlueVision, produk AI yang diimplementasikan di sistem CCTV untuk mengenali objek secara otomatis, QlueWork, aplikasi mobile untuk mengatur dan mengkoordinasikan pekerja di lapangan, dan QlueDashboard, platform integrasi data yang memberikan laporan secara real-time, bisa membantu para pemimpin dalam mengumpulkan data dan mengidentifikasi masalah di lapangan secara cepat, efektif, dan akurat,” ujar Rama.
Share: