
Ketua Umum PANDI Yudho Giri Sucahyo | Foto: Cyberthreat.id/Rahmat Herlambang
Ketua Umum PANDI Yudho Giri Sucahyo | Foto: Cyberthreat.id/Rahmat Herlambang
Jakarta, Cyberthreat.id – Ketua Umum Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) Yudho Giri Sucahyo mengatakan, saat ini Indonesia masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) di bidang keamanan siber (cybersecurity).
Dari data yang ia miliki jumlah SDM yang berkecimpung di dunia keamanan siber sekitar 200 orang se-Indonesia. Menurut dia, jumlah tersebut sangatlah kecil terlebih tenaga yang terkait dengan sertifikasi untuk audit keamanan informasi hanya sekitar 100 orang.
Ia mengatakan, ada tiga sisi yang harus diperbaiki terkait hal itu di Indonesia, yaitu pendidikan formal, kelembagaan, dan proses sertifikasi.
“Sebenarnya selain pendidikan formal ada juga berbagai sertifikasi terkait keamanan informasi, seperti CISSP (Certified Information Systems Security Professional), ISO 27001, CIH (Certified Incident Handler), dan lain-lain. Sayangnya di Indonesia yang bisa menyertifikasi belum banyak,” ujar Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia tersebut.
Di Universitas Indonesia saat ini, kata dia, sudah membuka peminatan bidang keamanan informasi guna memenuhi kebutuhan di bidang kemanan siber.
UI saat ini sudah memiliki laboratorium cybersecurity yang bisa dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa untuk meneliti keamanan informasi. Ia menambahkan laboratorium tersebut tidak memiliki banyak perbedaan dengan laboratorium komputer lain, hanya pada laboratorium tersebut dilakukan simulasi hacking dan penetration test.
“Mahasiswa kami baik S1, S2, atau S3 yang ingin meneliti soal keamanan informasi, khususnya keamanan siber, mereka akan banyak berinteraksi dengan lab tersebut,” ujar dia.
Ia mengharapkan, perguruan tinggi di indonesia yang memiliki Fakultas Komputer atau Informatika seharusnya juga memiliki jurusan keamanan informasi atau keamanan siber. “Ini untuk memenuhi kebutuhan SDM yang masih sangat kurang,” kata dia.
Share: