IND | ENG
Duh, Ternyata Browser Bisa Mencuri Data Pengguna

Ilustrasi | Foto : Fossbytes

Duh, Ternyata Browser Bisa Mencuri Data Pengguna
Eman Sulaeman Diposting : Senin, 12 Agustus 2019 - 17:30 WIB

Jakarta,Cyberthreat.id - Kaspersky, perusahaan penyedia solusi kemanan mengungkapkan, mesin penjelajah (browser) yang tersedia di perangkat komputer maupun smartphone, ternyata bisa mencuri data pengguna.

Modusnya dengan menawarkan untuk menyimpan data pengguna secara otomatis (autofill) seperti, kredensial akun, detail kartu bank untuk toko online, alamat penagihan, nama, dan nomor paspor untuk situs perjalanan, dan sebagainya.

“Karena mungkin akan bersifat lebih praktis daripada kita harus kembali mengisi ulang data yang sama dan kekhawatiran akan lupanya kata sandi. Namun, ternyata ada hal menarik bahwa pengisian data otomatis ini dapat disalahgunakan oleh pelaku kejahatan siber jika komputer Anda terinfeksi oleh pencuri melalui sepotong malware yang dapat mencuri informasi, bahkan dari browser sekalipun,” tulis Kaspersky melalui siaran pers, Senin, (12 Agustus 2019).

Menurut Kaspersky, skenario semacam ini menjadi semakin populer di kalangan scammers online. Di paruh pertama tahun ini saja, produk keamanan Kaspersky mendeteksi lebih dari 940.000 aksi pencurian. Jumlah tersebut meningkat sepertiga dibandingkan periode sama tahun lalu.

"Sebenarnya, para pencuri tidak hanya tertarik dengan pengisian data otomatis pada browser saja, namun lebih dari itu . Mereka juga mencari dompet mata uang kripto dan data permainan (gaming), dan tertarik untuk mencuri file dari desktop. Kami berharap Anda tidak menyimpan informasi berharga di sana, seperti daftar kata sandi,” ungkap Kaspersky.

Cara Kerja Browser Menyimpan Data Otomatis

Pengembang browser berupaya untuk melindungi informasi yang dipercayakan kepadanya. Untuk melakukannya, mereka melakukan enkripsi, dan dekripsi yang hanya mungkin dilakukan pada perangkat yang sama dari akun yang sama yang menyimpannya.

Jadi, jika seseorang dengan mudah mencuri data dari pengisian otomatis, mereka tidak akan dapat menggunakannnya, karena seluruh komponen dalam browser sudah terenkripsi dengan aman. Namun, para pengembang browser menganggap bahwa perangkat dan akun Anda terlindungi dengan baik, artinya setiap program yang berjalan dari akun di komputet pun bertindak atas pengetahuan Anda dan oleh karenanya  harus dapat mengekstraksi dan mendekripsi data yang disimpan.

“Sayangnya, ini juga berlaku untuk malware yang telah menembus perangkat dan berjalan di bawah akun Anda,” tambah Kaspersky.

Menurut Kaspersky, satu-satunya browser yang menawarkan perlindungan ekstra untuk data yang disimpan terhadap pihak ketiga adalah Firefox. Firefox diklaim memungkinkan untuk membuat kata sandi utama yang harus pengguna masukkan ketika pengguna membutuhkan data untuk didekripsi dan digunakan untuk pengisian otomatis. Namun, opsi ini dinonaktifkan secara default.

Browser Chrome

Google Chrome dan browser lain dari mesin Chromium (seperti Opera dan Yandex.Browser) selalu menyimpan data pengguna di tempat yang sama, sehingga pencuri tidak kesulitan menemukannya. Setidaknya secara teori, data ini disimpan dalam bentuk terenkripsi. Namun, jika malware telah menembus sistem, maka tindakannya dilakukan atas nama Anda.

Oleh karena itu, malware ini secara sederhana mengajukan permintaan halus ke alat enkripsi data browser untuk mendekripsi informasi yang tersimpan di komputer Anda. Dengan permintaan yang tampaknya dari pengguna dianggap aman secara default, hasilnya adalah pencuri mendapatkan semua kata sandi dan detail kartu kredit Anda.

Browser Firefox

Firefox beroperasi sedikit berbeda. Untuk menyembunyikan basis data kata sandi dan lainnya dari orang asing, browser ini membuat profil dengan nama acak, sehingga malware tidak dapat mengetahui di mana mencarinya.

Namun, nama file dengan data yang disimpan tidak berubah, jadi tidak ada yang dapat mencegah pencuri menyaring seluruh profil (folder yang berisi seluruh data itu tersimpan di satu tempat) dan mengidentifikasi file yang mereka inginkan.

Setelah itu, malware kembali meminta modul browser yang relevan untuk mendekripsi file, dan hasilnya dapat berhasil, karena aktivitas tersebut seharusnya bertindak atas nama Anda.

 Internet Explorer dan Edge

Browser Windows asli menggunakan penyimpanan khusus untuk data Anda. Metode dan tipe penyimpanan yang tepat tergantung pada versi aplikasi, tetapi terlepas dari itu, keandalannya masih banyak diminati.

Di sini, malware juga dapat dengan mudah mengambil kata sandi dan detail kartu kredit Anda dengan memintanya dari penyimpanan, yang tampaknya atas nama Anda.

Masalahnya adalah permintaan malware untuk mendekripsi data browser ini tampaknya berasal dari pengguna, sehingga browser tidak memiliki alasan untuk mengatakan tidak.

Apa yang Terjadi Pada Data yang Dicuri Oleh Pencuri?

Setelah malware memiliki data autofill  dalam teks biasa, ia akan mengirimnya kembali ke para pelaku kejahatan siber. Dari sana, salah satu dari dua skenario dapat terungkap. Pemilik malware dapat menggunakannya untuk diri sendiri atau, mungkin menjualnya ke aktor ancaman  lain di pasar gelap, di mana produk seperti itu memiliki nilai yang sangat berharga.

Bagaimanapun, jika nama pengguna dan kata sandi adalah di antara informasi yang tersimpan, para pelaku kejahatan siber sangat mungkin untuk melakukan pencurian pada beberapa akun Anda dan mencoba untuk melakukan penipuan berupa uang pada kerabat Anda.

“Jika Anda menyimpan data kartu bank di browser, kerugiannya dapat langsung dirasakan, misalnya uang Anda akan dihabiskan atau ditransfer ke tempat lain. Akun yang telah dicuri dapat digunakan untuk banyak tujuan lainnya, mulai dari spamming dan promosi situs web atau aplikasi, hingga pengiriman virus dan pencucian uang yang dicuri dari pihak lain,” ungkap Kaspersky.

 

 

#kaspersky   #browser   #chrome   #firefox   #edge   #autofil   #pencuriandata   #scammers   #internetexplorer

Share:




BACA JUGA
Malware Menggunakan Eksploitasi MultiLogin Google untuk Pertahankan Akses Meski Kata Sandi Direset
Penting: Kerentanan Zero-Day Chrome Terbaru yang Dieksploitasi di Alam Liar – Upadate-ASAP
Tracking Protection Google di Chrome Blokir Cookie Pihak Ketiga
Kaspersky: 1 dari 5 Pengguna Internet Indonesia Jadi Sasaran Serangan Siber
Penyebab Kanada Blokir WeChat China dan Antivirus Kaspersky Rusia dari Perangkat Pemerintah