
Ilustrasi | Faisal Hafis
Ilustrasi | Faisal Hafis
Jakarta, Cyberthreat.id - Penelitian terbaru Kaspersky menyatakan 80 persen karyawan mengabaikan keamanan data. Kondisi ini menjadikan bisnis menghadapi berbagai resiko dalam mengamankan dan melindungi jumlah file serta data yang terus bertambah.
"Karyawan merasa tidak perlu bertanggung jawab untuk memastikan email, file, dan dokumen memiliki izin akses yang tepat, terlepas dari mereka yang membuatnya atau tidak," kutip pernyataan Kasperksy yang diterima Cyberthreat.id, Selasa (30 Juli 2019).
Data pribadi yang sensitif, rincian pembayaran dan kode otorisasi adalah contoh dari data kredensial dalam perusahaan untuk menjaga bisnis tetap berjalan secara efisien. Namun para staf tidak menyimpan rincian ini dengan aman atau benar.
Hanya 56 persen karyawan secara teratur menghapus item yang sudah tidak digunakan dari kotak masuk e-mail, sementara 34 persen karyawan berinisiatif menyingkirkan file usang pada perangkat keras mereka.
"Kekacauan digital ini menjadi masalah yang lebih besar ketika informasi disimpan di tempat yang sulit dikendalikan seperti cloud, folder bersama atau saat file ditransfer."
Peningkatan jumlah file membuat organisasi kesulitan mengelola informasi perusahaan. Kabar baiknya, karyawan masih bertanggung jawab untuk memastikan bahwa data sensitif atau rahasia tidak mudah diakses dan ditemukan oleh pihak luar.
"Jika seorang karyawan saja dapat menemukan data pribadi, informasi gaji rekan kerja mereka, tentu peretas juga bisa."
Bisnis sangat mengandalkan staf untuk mengelola data perusahaan dengan aman.
Jika karyawan dan organisasi dapat mengatasi tantangan keamanan informasi bersama, maka akan tumbuh etos dan budaya perusahaan di mana semua orang peduli untuk melindungi bisnis dan keamanannya.
"Di sinilah pentingnya memberikan edukasi kepada karyawan agar memahami pentingnya keamanan data."
Share: