
Ilustrasi
Ilustrasi
Jakarta, Cyberthreat.id - Rendahnya kesadaran terhadap keamanan dan perlindungan data pribadi telah membuat jutaan hingga ratusan juta data dicuri dari berbagai instansi/lembaga di dunia.
Sebut saja data-data dari rumah sakit, lembaga pemerintah, perusahaan finansial hingga bank-bank di dunia.
Ketika satu set data pribadi dijual di internet, maka disitulah peluang terciptanya identitas baru yang dipalsukan sehingga bisa disalahgunakan.
Di Darkweb, harga data pribadi yang lengkap untuk membuat identitas palsu dijual seharga 30 USD sampai 40 USD atau kurang dari Rp 600 ribu.
"Penelitian menunjukkan bahwa harga pencurian data pribadi hanya sekitar 30 USD - 40 USD," tulis sebuah artikel dilansir Dark Reading, Sabtu (27 Juli 2019).
Di Amerika Serikat, sebuah data pribadi untuk konsumen bisa mengandung berbagai info seperti nama lengkap, tanggal lahir, nomor Jaminan Sosial, alamat, nomor telepon, nomor SIM hingga nama gadis ibu.
Kemudian dengan menambah 10 USD sampai 25 USD (kurang dari Rp 350 ribu), penjual akan menambahkan data-data berupa kartu kredit individu data rekening bank, pertanyaan dan jawaban keamanan bank, majikan, atau informasi penting lainnya.
Penelitian terbaru Armor Defense menyatakan pedagang gelap yang menjual data pribadi sudah berani memberikan tips melakukan penipuan terhadap bank atau mencari data yang belum lengkap seperti nama gadis ibu kandung.
"Misalnya pergi ke website ancestry.com," tulis artikel tersebut.
Harga dan biaya penjualan data pribadi di setiap negara berbeda-beda, tapi yang menjadi catatan adalah data pribadi jutaan atau ratusan juta orang telah beredar ke tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
Simpelnya, mereka disebut kriminal.
"Serangkaian pembobolan data telah terjadi di rumah sakit, lembaga pemerintah dan perusahaan finansial."
Share: