
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Nusa Dua, Cyberthreat.id – Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat membantu para pelaku keamanan jaringan untuk mencegah dan menganalisa potensi serangan siber, serta melakukan pemulihan.
"Sebenarnya, keamanan siber itu tidak dapat dilakukan secara individual, melainkan secara menyeluruh hingga tingkat negara karena pola-pola serangan saat ini sudah dalam skala yang besar dan kecepatan tinggi," ujar Wakil Presiden Analisa dan Strategi Fortinet Jonathan Nguyen-Duy dalam temu media di Nusa Dua, Bali, Rabu (24 Juli 2019).
Menurut Jonathan, tindakan paling utama dari pelaku keamanan jaringan terhadap serangan siber adalah mewaspadai dan mencegah serangan serta bagaimana pemulihan pasca-terkena serangan.
"Kita harus kembali ke catatan aktivitas program (log file) untuk menganalisa apa yang terjadi, apa yang akan terjadi, dan bagaimana merekonstruksi sistem jaringan dan perangkat yang telah terkena serangan siber," kata Jonathan.
Sementara, Wakil Presiden Senior Teknik Sistem Global Fortinet Filippo Cassini mengatakan, saat ini barang-barang internet (Internet of Things/IoT) sangat rawan terhadap serangan siber malware karena berpotensi merusak fungsi sehingga tidak dapat dipulihkan.
"Jika perangkat IoT untuk membuat rumah pintar (smart home) seperti home router, lemari es yang terhubung Internet, televisi pintar, ataupun pendingin udara terserang malware, perangkat-perangkat itu akan terus terserang karena basis sistem operasionalnya susah untuk diperbarui," kata
Cassini mengatakan serangan malware terhadap perangkat IoT seringkali membidik program-program yang saling terhubung melalui Internet (bot net) untuk kembali menyebarkan malware bahkan ransomware.
"Orang-orang jahat selalu berusaha mengembangkan teknik untuk melakukan tindakan (serangan) mereka secara sembunyi-sembunyi dan tidak tampak dengan pengamanan biasa," kata Cassini, seperti dikutip dari Antaranews.com.
Share: