
Konten "Server KPU" tersebar di media sosial sebanyak lebih dari 45 ribu shares dan 974 ribu views hanya dalam satu hari. Foto: Arsip Mafindo
Konten "Server KPU" tersebar di media sosial sebanyak lebih dari 45 ribu shares dan 974 ribu views hanya dalam satu hari. Foto: Arsip Mafindo
Jakarta, Cyberthreat.id - Isu "Server KPU" menjadi paling tersebar atau viral di jagat media sosial Indonesia pekan lalu.
Dalam penelusuran Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), konten "Server KPU" tersebar di media sosial sebanyak lebih dari 45 ribu shares dan 974 ribu views hanya dalam satu hari.
Konten tersebut tersebar di semua platform populer seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Ini belum termasuk penyebaran di group WhatsApp yang diduga angkanya bisa jauh lebih besar.
"Hal ini menjadikan isu “Server KPU” adalah yang paling besar dan paling cepat penyebarannya di masyarakat Indonesia terkait penyelenggaraan Pemilu," kata Mafindo seperti dikutip di situs webnya, Minggu (7/4/2019).
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia sebelumnya telah menyangkal informasi di medsos yang menyebutkan bahwa "server KPU telah diatur untuk memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01". Informasi itu, kata KPU, adalah berita bohong alias hoaks.
(Baca: Temukan Konten Hoaks, Adukan ke Sini!)
(Baca: Hoaks Semakin Masif Mengotori Ruang Siber Indonesia)
Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, mengatakan, hoaks-hoaks seperti isu "Server KPU" merupakan kelanjutan dari hoaks-hoaks sebelumnya seperti ‘Tujuh Kontainer Surat Suara Tercoblos’, ‘Truk Surat Suara Beraksara China’, dan 'Masuknya WNA dalam DPT.'
Menurut Septiaji, isu "Server KPU" mulai terdeteksi di medsos sejak 3 April 2019) pukul 19:30 WIB dan menyebar luas hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.
Septiaji mengungkapkan ada 19 akun yang paling banyak menyebarkan isu tersebut, 14 di antaranya bukan akun asli alias akun abal-abal seperti Rahmi Zainudin Ilyas, Rara Putri Edelweis, Noor Inesya Zain, dan Alena Putri.
"Banyaknya masyarakat yang terperdaya oleh informasi dari akun abal-abal menunjukkan literasi media yang rendah," kata dia.
Selain itu, kata dia, banyak yang belum paham bahwa Pemilu 2019 masihlah berbasis manual, sedangkan sistem teknologi informasi fungsinya sebagai pelengkap untuk mempermudah rekapitulasi perhitungan, kontrol, dan komunikasi.
Mafindo menyarankan agar masyarakat perlu mengetahui cara untuk mengecek sebuah informasi itu benar atau tidak.
Selain bertumpu kepada sumber informasi yang kredibel, khususnya media massa yang terdaftar di Dewan Pers, masyarakat juga bisa menggunakan berbagai inovasi anti hoaks karya anak bangsa seperti WhatsApp Hoax Buster melalui nomor WA 085574676701.
"Masyarakat juga bisa memasang aplikasi Hoax Buster Tools di Android untuk memudahkan membedakan hoaks dan bukan," tulis Mafindo.
Beberapa situs antihoaks seperti CekFakta.com, TurnBackHoax.ID, StopHoax.ID juga bisa memudahkan masyarakat untuk mengecek informasi hoaks.
Share: