IND | ENG
BSSN: Perlunya Pengawasan Sistem Elektronik yang Memuat Konten Negatif

bssn.go.id

BSSN: Perlunya Pengawasan Sistem Elektronik yang Memuat Konten Negatif
Kiki Sabrina Diposting : Sabtu, 12 Agustus 2023 - 09:21 WIB

Cyberthreat.id - Pemanfaatan Teknologi dan Informasi kini sudah semakin tinggi, sehingga tingkat resiko keamanannya juga semakin tinggi. Pada umumnya ancaman terhadap ruang siber banyak yang bersifat teknis, padahal ancaman dan serangan siber yang bersifat sosial malah lebih berbahaya. Karena itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) Penanganan Ancaman dan Serangan Siber Sosial di Indonesia di Hotel Artotel Suites Bianti, Yogyakarta pada Selasa (8/8/2023).

Kegiatan itu dilaksanakan secara hybrid yang diikuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Kepolisian RI, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Dinas Kominfo Pemprov DIY, Polda DIY, Museum Sandi Yogyakarta, Google Indonesia, Meta Indonesia, Center for Digital Society (CfDS), Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Pusat Kecerdasan Digital UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ICT Watch, SIBERKREASI, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Cyberkata, Orang Siber Indonesia dan Jogja Cybersecurity.  

Dalam sambutannya Plt. Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN Satrio Suryantoro menyampaikan bahwa perlu adanya upaya dalam pencegahan berupa literasi dan program peningkatan security awaraness kepada masyarakat.

“Pemerintah telah menetapkan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2023 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional dan Manajemen Krisis Siber. SKSN memerlukan rencana aksi yang berisi upaya terencana dan terukur untuk menjabarkan dan mengimplementasikan strategi keamanan siber nasional dalam jangka waktu lima tahun,” ujar Satrio.

BSSN telah melakukan pemantauan dan pengamatan, dan menilai ancaman dan serangan siber sosial cukup tinggi. Berdasarkan statistik aduan konten negatif dari Kominfo, terdapat total 1.713.103 aduan. Untuk dapat menekan statistik tersebut, perlu melakukan pengawasan kepada sistem elektronik yang memuat konten negatif yang dapat digunakan sebagai media penyebarluasan serangan siber sosial.

Satrio juga menambahkan bahwa FGD ini sebagai ruang untuk berkolaborasi membentuk rencana aksi tingkat nasional yang berisi upaya terencana dan terukur dalam menjabarkan dan mengimplementasikan strategi keamanan siber nasional.

“Kegiatan FGD ini dimaksudkan sebagai ruang untuk berkolaborasi dan membentuk sinergitas multi stakeholder dalam menangani tantangan dan ancaman dari serangan siber sosial di Indonesia, serta bertukar pandangan sebagai bahan masukan dalam penyusunan rencana aksi nasional keamanan siber,” pesan Satrio.

Sebagai narasumber dalam acara ini yaitu Dhoni Kurniawan (BSSN), Firdini (Bappenas), Bayu Hernanto (Dittipsiber Polri), Afif Nur Rakhman (Direktorat PAI Kominfo), Agung Tri Nugraha (CfDS), Zainuddin Muda Z. Monggilo (Japelidi), Faris Mufid (Global public policy southeast asia bytedance), Arianne Santoso (Google), dan Dessy Septiane Sukendar (Meta).

Pada FGD kali ini dilakukan kunjungan ke Museum Sandi yang diikuti oleh peserta dan narasumber FGD.[]

#ancamansiber   #keamanansiber   #bssn

Share:




BACA JUGA
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
BSSN-Huawei Techday 2024
Keamanan Siber Membutuhkan People, Process, dan Technology.
BSSN dan Bank Riau Kepri Syariah Teken Kerja Sama Perlindungan ITE
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
SiCat: Inovasi Alat Keamanan Siber Open Source untuk Perlindungan Optimal