IND | ENG
Saatnya Pelajaran Siber Masuk Kurikulum Pendidikan. Anak-anak telah Menjadi Target Penjahat Siber

Ilustrasi | Foto: freepik.com

Saatnya Pelajaran Siber Masuk Kurikulum Pendidikan. Anak-anak telah Menjadi Target Penjahat Siber
Andi Nugroho Diposting : Selasa, 02 Mei 2023 - 16:36 WIB

Cyberthreat.id – Pakar perlindungan data pribadi, Ibnu Dwi Cahyo, mendorong pemerintah untuk menambahkan kurikulum pendidikan nasional terkait siber.

Momentum Hari Pendidikan Nasional, diperingati setiap tanggal 2 Mei, seharusnya menjadi refleksi perbaikan terutama terkait literasi digital.

Menurut Ibnu, perbaikan literasi digital lewat institusi pendidikan formal tidak bisa ditunda lagi. "Semua sentra kehidupan sudah tersentuh digitalisasi, sehingga seharusnya lembaga pendidikan formal menjadi tempat pertama dan utama bagi anak bangsa untuk belajar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di wilayah siber," ujar Direktur Sehat Siber Indonesia ini dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2 Mei 2023).

Ia menambahkan: “Literasi digital ini sangat penting, apalagi kita menghadapi era media sosial yang sangat bebas, belum lagi soal perlindungan data pribadi."

Literasi digital lewat lembaga pendidikan formal sangat bisa dilakukan apalagi dengan adanya kurikulum Merdeka Belajar.

Dengan mendorong literasi digital di lembaga pendidikan formal, katanya, membantu Indonesia bergerak evolusioner bahkan revolusioner bersamaan dengan bonus demografi yang sedang dan akan dinikmati Indonesia.

World Economic Forum (WEF) juga telah menyinggung isu kurikulum siber ini untuk sejak dini diajarkan kepada anak-anak. Paul Mee, Kepala Cyber Risk Initiative dari Oliver Wyman Forum, pada 2020 mengatakan, di era kemajuan teknologi yang begitu pesat, anak-anak perlu diingatkan tentang risiko yang menyertai semua aplikasi ponsel pintar dan komputer keren yang dipakai mereka.

"Guru sekolah dasar harus memasukkan dasar-dasar keamanan siber dalam kurikulum sehari-hari mereka. Minimal, setiap anak kecil harus tahu bagaimana menjaga kerahasiaan informasi mereka, menahan diri tidak menanggapi orang tak dikenal, dan melaporkan sesuatu yang tak biasa kepada orang dewasa. Sayangnya, saat ini belum banyak yang melakukannya," ujar Paul dalam artikelnya bertajuk "We need to start teaching young children about cybersecurity".

Serangan siber saat ini, katanya, juga menyasar kepada anak-anak. Data Experian, perusahaan pelaporan kredit konsumen, menyebutkan pada 2019 diperkirakan sekitar satu dari empat remaja Amerika Serikat mengalami pencurian identitas atau penipuan sebelum mereka berusia 18 tahun. Para penipu menargetkan dompet virtual.

Terlebih lagi, sekitar satu dari lima anak muda AS mengalami paparan online yang tidak diinginkan dari materi seksual terang-terangan, serta satu dari sembilan pengalaman ajakan seksual online, menurut penelitian yang diterbitkan di Journal of Adolescent Health .

"Alasan utama peretas dan penipu online berfokus pada kaum muda adalah karena anak-anak memiliki akses yang mudah ke internet dan aplikasi smartphone dan hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang risikonya," tutur Paul.

Paul menambahkan: " Anak-anak dapat menyerap informasi seperti spons."

Oleh karenanya, "Sebagai pakar keamanan dunia maya, saya membekali banyak orang untuk skenario terburuk - dan selama bertahun-tahun, saya melihat hal itu terwujud. Serangan dunia maya adalah ancaman terbesar saat ini bagi bisnis, pemerintah, dan masyarakat. Setiap kali inovasi teknologi, secara bersamaan menciptakan kerentanan baru yang tidak dapat diprediksi," ia menuturkan.[]

#serangansiber   #kurikulumpendidikannasional   #kurikulummerdekabelajar   #keamanansiber   #

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
Luncurkan Markas Aceh, Wamen Nezar Dorong Lahirnya Start Up Digital Baru
Awas, Serangan Phishing Baru Kirimkan Keylogger yang Disamarkan sebagai Bank Payment Notice
Wujudkan Visi Indonesia Digital 2045, Pemerintah Dorong Riset Ekonomi Digital