
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Kaspersky, perusahaan keamanan siber asal Rusia, menemukan serangan siber yang berupaya mencuri aset kripto. Serangan ini masih aktif di lebih dari 15.000 pengguna di 52 negara.
Didistribusikan dengan kedok Tor Browser, perangkat lunak jahat (malware) itu beroperasi dengan mengganti sebagian konten clipboard yang dimasukkan dengan alamat dompet (wallet address) milik penyerang setelah mendeteksi alamat dompet di clipboard.
Diperkirakan peretas telah meraup keuntungan sekitar 400.000 dollar AS atau sekitar Rp 6 miliar, tutur Kaspersky dalam keterangan tertulisnya, Rabu (29 Maret 2023) dikutip dari Antaranews.com.
Teknik ini sebenarnya telah ada selama lebih dari satu dekade dan penggunaan awalnya dilakukan oleh trojan perbankan untuk mengganti nomor rekening bank. Dengan munculnya aset kripto, malware jenis baru ini sekarang secara aktif menargetkan para pemilik dan penjual kripto.
Salah satu pengembangan malware baru-baru ini melibatkan penggunaan Tor Browser, alat yang digunakan untuk mengakses dark web.
Pengguna yang ditargetkan mengunduh Tor Browser versi trojan dari sumber daya pihak ketiga berisikan arsip RAR yang terlindung kata sandi. Tujuan kata sandi adalah untuk mencegah deteksi oleh solusi keamanan.
Setelah file dijatuhkan di dalam sistem pengguna, ia mendaftarkan dirinya sendiri di sistem auto-start dan disamarkan dengan ikon aplikasi populer, seperti uTorrent.
Teknologi Kaspersky telah mendeteksi lebih dari 15.000 serangan menggunakan malware clipboard injector yang menargetkan aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, Litecoin, Dogecoin, dan Monero.
Serangan-serangan ini telah menyebar ke setidaknya 52 negara di seluruh dunia, dengan mayoritas deteksi berlokasi di Rusia.
Sepuluh negara yang terkena dampak teratas termasuk Amerika Serikat, Jerman, Uzbekistan, Belarusia, China, Belanda, Inggris, dan Perancis.
Berdasarkan analisis sampel yang ada, perkiraan kerugian pengguna setidaknya mencapai 400.000 dollar AS, tetapi jumlah sebenarnya yang dicuri bisa jauh lebih besar, karena penelitian ini hanya berfokus pada penyalahgunaan Peramban Tor. Serangan lain mungkin menggunakan metode pengiriman perangkat lunak dan malware yang berbeda.
Kepala Unit Asia Pasifik, Tim Riset & Analisis Global (GReAT) Vitaly Kamluk mengatakan bahwa terlepas dari kesederhanaan mendasar serangan Peramban Tor palsu, hal itu menimbulkan bahaya yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Bukan hanya membuat proses transfer uang menjadi tidak dapat diubah, tetapi juga pasif dan sulit dideteksi untuk pengguna biasa.
"Sebagian besar malware memerlukan saluran komunikasi antara operator malware dan sistem pada korban. Sebaliknya, injektor clipboard dapat tetap diam selama bertahun-tahun, tanpa aktivitas jaringan atau tanda kehadiran lainnya hingga hari mereka mengganti alamat dompet kripto,” kata Kamluk.
Untuk menjaga keamanan aset kripto, Kaspersky menyarankan:
Share: