
Elon Musk. Foto: The Verge
Elon Musk. Foto: The Verge
Cyberthreat.id – Elon Musk mengatakan akan mundur dari posisi CEO Twitter jika telah mendapatkan sosok yang tepat—dalam versi dia, sosok itu disebut “seseorang yang cukup bodoh untuk menerima pekerjaan itu”.
Bos perusahaan mobil listrik Tesla itu membeli platform microblogging pada akhir Oktober lalu senilai Rp680 triliun.
Sejak itu, ia melakukan pemutusan hubungan kerja di tingkat eksekutif dan karyawan. Juga, membuat keputusan yang kontroversial, seperti akhir-akhir ini pembungkaman massal akun jurnalis meski kemudian dipulihkan. (Baca:
Pada Selasa (20 Desember 2022), Musk membuat pernyataan melalui akun Twitter-nya bahwa bila sudah ada CEO baru, dirinya akan fokus “menjalankan perangkat lunak dan tim server”.
Wacana mundur dari CEO itu menyusul jajak pendapat yang dibikinnya pekan lalu. Ia bertanya,”Haruskah saya mundur sebagai kepala Twitter? Saya akan mematuhi hasil dari jajak pendapat ini”.
Hasilnya, sebanyak 57,5 persen dari 17,5 juta pemilih setuju dirinya mundur dan dan 42,5 persen menyatakan tidak setuju, dikutip dari Digital Trends.
Terpisah, Twitter Inc juga sedang mendapatkan gugatan oleh 100 mantan karyawan yang dipecat sejak perusahaan dibeli oleh Musk. Mereka menilai perusahaan tidak membayar pesangon yang dijanjikan.
Gugatan class action telah diajukan ke Pengadilan Federal California.
Reuters melaporkan bahwa awal November lalu sebanyak 3.700 karyawan diberhentikan demi langkah penghematan biaya operasional.
"Tindakan Twitter sejak Musk mengambil alih sangat mengerikan, dan kami akan melakukan segala cara untuk melindungi pekerja dan mengambil kompensasi dari Twitter yang menjadi hak mereka," kata Shannon Liss-Riordan, pengacara yang mendampingi para eks karyawan Twitter.[]
Share: