
Ilustrasi | Foto: unsplash
Ilustrasi | Foto: unsplash
Cyberthreat.id – Sophos, perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, membuat survei terkait serangan ransomware yang dialami oleh sektor manufaktur dan produksi.
Menurut survei bertajuk “The State of Ransomware in Manufacturing and Production” yang dirilis pekan lalu, kedua sektor tersebut rata-rata mengeluarkan uang tebusan tertinggi sebesar US$2 juta dibandingkan sektor lain yang rata-rata US$800 ribu.
Ransomware adalah perangkat lunak jahat (malware) yang dipakai peretas untuk mengunci file di komputer korban. Peretas biasanya mengancam akan membocorkan data-data perusahaan yang telah dicurinya melalui serangan ransomware itu, kecuali membayar sejumlah uang tebusan.
“Sekitar 66 persen organisasi manufaktur dan produksi yang disurvei melaporkan, telah terjadi peningkatan kompleksitas serangan siber,” kata Sophos dikutip dari blog perusahaan, diakses Senin (31 Oktober 2022).
Sementara, sekitar 61 persen responden melaporkan telah ada peningkatan volume serangan siber jika dibandingkan dengan survei tahun lalu.
John Shier, penasihat keamanan senior Sophos, mengatakan, manufaktur menjadi sasaran menarik peretas karena “posisinya yang istimewa dalam rantai pasokan.”
Selain itu, “Infrastrukturnya cenderung usah dan kurangnya visibilitas terhadap lingkungan teknologi operasional. Ini memberikan peluang penyerang cara masuk dan meluncurkan serangan di jaringan yang diretas,” ujarnya.
Dalam laporan Sophos juga disebutkan bahwa sektor manfukatur dan produksi memiliki tingkat serangan terendah, terutama terkait layanan keuangan.
Namun, persentase organisasi kedua sektor yang terkena ransomware justru meningkat menjadi 52 persen dari 36 persen pada survei tahun lalu.
Sophos juga mengatakan bahwa sektor manufaktur dan produksi memiliki tingkat enkripsi terendah hanya 57 persen. Dan, hanya 75 persen dari mereka yang disurvei memiliki asuransi siber—persentase ini terendah di semua sektor (dibandingkan sektor-sektor lain).[]
Share: