
Porak poranda. Pada 10 Oktober 2022, ibu kota Ukraina diguncang serangan rudal Rusia. Foto: The Daily Digest
Porak poranda. Pada 10 Oktober 2022, ibu kota Ukraina diguncang serangan rudal Rusia. Foto: The Daily Digest
Cyberthreat.id – Cloudflare, penyedia jaringan distribusi konten dan keamanan siber, , menyebutkan sejak serangan rudal Rusia pada Senin-Selasa (10-11 Oktober 2022) menyebabkan gangguan internet dan komunikasi seluler.
Ketersediaan internet di negara itu pada Senin pagi di bawah level biasanya, hanya 35 persen. Serangan 84 rudal dan 24 pesawat nirawak itu menghujani infrastruktur kritis seperti jaringan telekomunikasi dan pembangkit energi, dan lain-lain.
“Ukraina dalam kondisi pemadaman listrik terparah sejak awal perang,” ujar Alp Toker, Direktur Organisasi Pemantau Internet, NetBlocks.
Pemerintah Ukraina mengatakan serangan rudal itu mengakibatkan sekitar 1.000 rumah tanpa listrik pada Senin malam.
Sejak gangguan pasokan listrik, operator seluler dan penyedia internet terpaksa memakai generator dan internet satelit Starlink milik Elon Musk.
“Sejak awal perang, mereka sudah tahu caranya bagaimana memulihkan komunikasi secepat mungkin,” kata Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, dikutip dari The Record, diakses Rabu (12 Oktober).
Sejak perang pecah pertama kali 24 Februari lalu, Rusia memang mengincar infrastruktur kritis baik fisik maupun digital.
Bahkan, sebelum invasi benar-benar dilakukan, pejabat Ukraina mengklaim bahwa serangan siber telah terjadi berhari-hari dalam skala besar. Serangan ditujukan pada sektor energi.
Dalam catatan intelijen pertahanan Ukraina, Rusia memiliki pengalaman serangan terhadap sistem energi Ukraina. Pada 2015, misalnya, malware bernama “BlackEnergy” yang diduga berasal dari Rusia membuat sekitar setengah dari rumah di wilayah Frankivsk tanpa listrik selama beberapa jam.
Lalu, pada 2016, malware “Industroyer” juga dipakai untuk menyerang jaringan listrik di ibukota negara, Kiev.
Pasca serangan rudal itu, bank seluler Ukraina, Monobank, juga mengalami serangan Distributed Denial-of-Service (DDoS)—membanjiri trafik untuk melumpukan kemampuan server. Tak tanggung-tanggung kiriman permintaan ke server mencapai 6 juta per menit.
Co-founder Monobank, Oleg Gorokhovsky, mengatakan, peretas menyerang tak lama setelah relawan Ukraina membuka penggalangan dana (crowdfunding) untuk membeli RAM II, drone kamikaze, untuk tentara Ukraina.
Serangan itu, kata dia, ternyata tak menghentikan orang-orang Ukraina menyumbang dana dan telah terkumpul lebih dari US$7 juta dalam delapan jam.[]
Share: