
Bulgaria Diguncang Peretasan Data Warga, Pelakunya Diciduk
Bulgaria Diguncang Peretasan Data Warga, Pelakunya Diciduk
Cyberthreat.id - Polisi Bulgaria dilaporkan telah menangkap seorang tersangka yang dicurigai meretas situs milik Badan Pendapatan Nasional (National Revenue Agency atau NRA) negara itu. Peretas disebut telah mencuri data pribadi dan keuangan milik lima juta orang penduduk Bulgaria.
“Kami telah menahan tersangkanya,” kata seorang juru bicara polisi setempat seperti dikutip dari Euronews.com, Rabu, 17 Juli 2019.
Peretasan situs NRA terjadi pada akhir Juni lalu dan dianggap sebagai kebocoran terbesar di negara itu. Peretas dilaporkan mencuri nama, data pribadi, dan data keuangan individu dan perusahaan.
Sehari sebelumnya, NRA mengatakan bahwa sekitar 3 persen basis datanya telah diretas. Pelaku kemudian mengirim email ke media lokal dan menawarkan akses ke data 5 juta yang dicuri, dari total tujuh juta penduduk Bulgaria.
Menteri Keuangan Vladislav Goranov meminta maaf kepada semua warga Bulgaria yang datanya dicuri. Parlemen setempat juga telah memang Vladislav untuk dimintai penjelasan.
Media lokal berspekulasi serangan itu mungkin dilakukan untuk menyoroti kerentanan infrastruktur cyber negara itu.
Asosiasi Industri Bulgaria —semacam Kadin-nya Bulgaria — mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya meningkatkan kekhawatiran tentang standar keamanan siber pemerintah tahun lalu setelah sistem registrasi komersial negara “gelap” selama setengah bulan.
Menteri Dalam Negeri Mladen Marinov mengatakan negara itu akan mencari bantuan dari badan cybersecurity Uni Eropa untuk mengaudit sistemnya yang paling sensitif.
Mladen mengatakan, serangan itu bertepatan dengan pembelian jet tempur AS F-16 untuk Angkatan Udara dan menduga bisa jadi serangan dimovitiasi oleh hal itu.
“Kelompok kriminal terorganisir yang terlibat dalam serangan siber biasanya mencari keuangan finansial. tetapi di sini ada motif politik. Pemerintah memutuskan kemarin untuk mmebeli jet F-16,” kata Marinov.
Namun, Menteri Keuangan Vladislav Goranov menolak opsi itu. Sebab, kata Vladislav, serangan cyber telah terjadi sebelum kesepatan pembelian jet tempur dilakukan.
Ada pun Perdana Menteri Bulgaria, Boyko Borissov, langsung mengadakan pertemuan darurat setelah mengetahui adanya serangan cyber terhadap lembaga negara, sekaligus memeriksa tingkat kerusakannya bersama kepolisian setempat. []
Share: