
Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri | Foto : nu.or.id
Menteri Tenaga Kerja RI Hanif Dhakiri | Foto : nu.or.id
Jakarta,Cyberthreat.id - Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakiri mengungkapkan, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, telah memaparkan kebijakannya, dalam waktu lima tahun ke depan, untuk fokus mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Sebagai lembaga yang menaungi bidang ketenagakerjaan, Hanif berkomitmen untuk menyediakan SDM yang handal, sehingga angkatan kerja Indonesia bisa bersaing secara lokal maupun global.
Oleh karena itu, melalui dukungan yang diberikan oleh AWS (Amazon Web Services), Hanif berkomitmen untuk turut mengembangkan SDM di bidang digital. Terurama, di bidang cloud computing, yang telah menjadi spesialiasi dari AWS.
“2019 ini, prioritas pemerintah diarahkan ke pengembangan SDM, sehingga tenaga kerja Indonesia bisa lebih kompetitif. Pemerintah telah membuka diri terhadap berbagai investasi dari luar, terutama dari AWS, pemerintah memberikan fasilitas dan insentif, sehingga AWS bisa investasi di Indonesia, sambil melakukan transfer knwoledge di bidang cloud computing,” kata Hanif dalam acara AWS Cloud Day 2019 di Jakarta, Selasa, (16 Juli 2019).
Menurut Hanif, melalui kerjasama dengan AWS, ditargetkan untuk memberikan pelatihan sebanyak 100 ribu orang pada 2025. Pada tahun ini, AWS menargetkan untuk memberikan pelatihan kepada 100 orang . Jumlah tersebut akan ditambah sebanyak 300 orang pada 2020.
“Sehingga, total SDM yang mendapatkan pelatihan dari AWS menjadi 400 orang pada 2020. Tetapi target kita adalah sebanyak 100 ribu orang pada 2025,” ujar Hanif.
Hanif menjelaskan, SDM yang akan mendapatkan pelatihan tersebut adalah para profesional IT yang bekerja di Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah yang diambil dari 19 provinsi di seluruh Indonesia. Setelah mengikuti pelatihan cloud computing dari AWS, mereka akan ditempatkan lagi di BLK untuk memberikan pelatihan selanjutnya kepada para tenaga kerja lainya.
“Bersama AWS,SDM di bidang IT akan di-upgrade. Sehingga mereka memiliki keahlian di bidang cloud computing. Kita fokus pengembangan talenta digital, apalagi kita sudah memasuki era industri 4.0,” jelas Hanif.
Sebagai gambaran, lanjut Hanif, saat ini, dari total angkatan kerja di Indonesia, sebanyak 58% hanya lulusan SD-SMP. Sisanya lulusan SMA/SMK,D1,D2,D3,D4,Sarjana, dan S2. Bahkan, di atas 50% angkatan kerja Indonesia tidak sesuai dengan skill yang dibutuhkan dunia kerja (missmatch).
“Jadi misalnya kita memilik 10 orang angkatan kerja. Yang 6 orang otomatis dicoret, karena tidak sesuai kualifikasi. Kemudian, sisanya 4 orang. Dari 4 itu, hanya 2 orang yang match, yang sesuai dengan kebutuhan dan skill. Jadi, memang fokus kita adalah pembangunan SDM, untuk mendongkrak daya saing kita,” tambah Hanif.
Meski demikian, lanjut Hanif, tanggung jawab untuk mendorong dan memperkuat kualitas tenaga kerja Indonesia harus dilakukan secara bersama-sama oleh institusi pendidikan, pelaku industri, dan pemerintah.
“Kami membuka peluang untuk berkolaborasi dengan pelaku industri seperti AWS, guna memastikan akan semakin banyak sumber daya manusia Indonesia yang memiliki akses terhadap pelatihan keterampilan cloud computing sesuai dengan kebutuhan inudstri,” pungkas Hanif.
Share: