
Ilustrasi Tower BTS | Okezone
Ilustrasi Tower BTS | Okezone
Cyberthreat.id – Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Kominfo, Anang Latief, mengungkapkan target tahap 1 pembangunan jaringan Base Transceiver Station (BTS) di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan) sudah mencapai 86 persen.
“Saat ini, rata-rata progres pembangunan BTS 4G Fase 1 adalah 86% dimana 1.900-an lokasi telah on air dari target 4.200 lokasi pada tahun 2022,” kata Anang dalam keterangan pers yang diterima, Senin (18 April 2022).
Seperti diketahui, pemerintah terus membangun jaringan BTS agar merata di seluruh Indonesia sebagai upaya percepatan transformasi digital. Penyediaan sinyal 4G dan akses internet tidak hanya berfokus pada wilayah urban, tetapi juga di pelosok desa berpemukiman serta wilayah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T).
Menurut Anang, pembangunan fase 1 tersebut terus dikebut dan ditargetkan selesai 100% pada tahun 2022. Di mana, untuk pembangunan BTS 4G tahap 2 di 3.704 lokasi, akan dilakukan bertahap sesuai dengan ketersediaan fiska. Bahkan, untuk tahun 2022, anggaran yang ada akan dialokasikan untuk pembangunan BTS 4G di 2.300 lokasi.
“Pembangunan BTS 4G didukung alokasi dana APBN secara bertahap yang disesuaikan dengan kemampuan fiskal pemerintah,” kata Anang.
Anang mengatakan, APBN yang dialokasikan untuk pembangunan 4.200 BTS 4G sebesar Rp11 Triliun. Salah satu komponen terbesar digunakan untuk biaya logistik pengiriman material, karena banyak lokasi pembangunan yang belum terdapat infrastruktur fisik dasar, seperti jalan, sehingga harus ditempuh dengan menggunakan helikopter.
Ia menyebutkan, pembangunan infrastruktur digital di desa-desa terpencil bukan hal yang mudah. Tantangan kondisi geografis alam, persoalan logistik, transportasi, dan ketersediaan SDM menjadi kendala tersendiri. Bahkan, banyak desa yang belum memiliki infrastruktur jalan yang layak dan aliran listrik.
“Ini menyebabkan pengiriman material ke lokasi BTS 4G banyak dilakukan dengan berjalan kaki dan menggunakan gerobak atau menggunakan perahu-perahu tradisional untuk menyeberangi lautan atau sungai-sungai,” kata Anang.[]
Share: