
Twitter | Foto: Unsplash
Twitter | Foto: Unsplash
Cyberthreat.id – Twitter Inc akhirnya mengenalkan fitur belanja yang diberi nama “Twitter Shops” menyusul platform pesaing lain, seperti Facebook, TikTok, dan Instagram yang lebih dulu memiliki fitur sejenis.
Kehadiran fitur baru itu semakin menunjukkan bahwa semua platform sosial bakal mengerucut jadi tempat belanja. Pengguna media sosial pada akhirnya target penawaran produk semata.
“Twitter Shops” memudahkan penjual memamerkan koleksi dagangannya hingga 50 produk di profil akunnya.
Fitur etalase seluler yang gratis ini sengaja dirancang untuk mendorong pengguna Twitter beralih dari ngobrolin produk di platform, lebih baik mengklik untuk mencari pilihan item, lalu check out.
Namun, tidak seperti fitur belanja Shops di Instagram, transaksi belanja tidak berjalan di Twitter, sebagai gantinya, pengguna pertama-tama harus mengklik tombol “View Shop” di atas tweet pedagang untuk mengunjungi toko mereka.
Saat calon pembeli siap bertransaksi, mereka akan mengklik item yang diarahkan ke situsweb pedagang untuk menyelesaikan pembelian.
“Pengalaman belanja ini terjadi di browser dalam aplikasi yang mirip dengan cara kerja fitur belanja di TikTok,” tulis TechCrunch, Kamis (10 Maret 2022).
Twitter saat ini tidak berencana untuk memonetisasi produk baru selama uji coba.
Foto: Tangkapan layar Twitter.
Fitur “Twitter Shops” masih dalam pengujian beta di AS dalam bahasa Inggris dengan ratusan merek termasuk Verizon, ArdenCove, LatinxInPower, dan lainnya Perusahaan berencana untuk merekrut dan onboard pedagang lain dan mitra terkelola sebagai peserta beta ke depan.
Saat diluncurkan nanti, “Twitter Shops” hanya akan tersedia sementara untuk pengguna Twitter di iPhone.
“Twitter Shops adalah bagian dari upaya yang lebih besar untuk mendukung semua jenis profesional dengan lebih baik – mulai dari bisnis kecil dan pembuat konten hingga merek besar – yang datang ke Twitter untuk melakukan bisnis,” tutur Twitter.
“Kami ingin Twitter Shops menjadi rumah bagi pedagang di Twitter, mereka dapat dengan sengaja menyusun katalog produk,” perusahaan menambahkan.
Sejak tahun lalu, Twitter telah memulai proyek percontohan e-commerce di AS. Pengguna dapat mencari produk di “Shop Module” di bagian atas profil pedagang. Namun, modul ini hanya menawarkan hingga lima produk, berbeda dengan “Twitter Shops” yang kini menampilkan katalog produk lebih banyak, bahkan bisa diunggah dalam bentuk file CSV.
File tersebut dapat berisi hingga 10.000 produk, termasuk nama, deskripsi, harga, dan detail lain sehingga pedagang dengan mudah memutar pilihan 50 produk di profil setiap saat.
Selain “Shop Module”, Twitter juga menguji platform belanja live shopping pada November 2021. Mereka menggandeng Walmart sebagai penguji beta pertamanya. Juga, dikenalkan ke mitra lain, seperti platform pengiriman makanan Gopuff dan Samsung.[]
Share: