
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Grup Analisis Ancaman (TAG) Google menemukan sebuah “operasi terkoordinasi” yang berkaitan dengan Belarusia, Moldova, dan Ukraina selama kuartal pertama 2022.
Pada 28 Februari, anggota TAG Shane Huntley mengatakan dalam buletin rutin, bahwa operasi tersebut berhasil dicegah dari upaya menyebarkan informasi keliru terkait dengan isu AS dan Eropa pada Januari lalu.
“Kami meyakini bahwa operasi ini bermotif uang,” kata Shane di blog Google, diakses Rabu (2 Maret 2022).
Google menghapus empat saluran YouTube dan dua akun AdSense yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan dengan menampilkan iklan serta satu blog Blooger.
“Selain itu, enam domain diblokir agar tidak muncul di Google News dan Discover,” tutur Shane.Menurut dia, kampanye operasi itu dilakukan dalam bahasa Inggris.
Terkait China
Di sisi lain, TAG Google juga melihat "operasi pengaruh yang relatif besar terkait dengan China."
“Total terdapat, 4.361 saluran YouTube dihentikan pada Januari,” tutur Shane.
Sebagian besar saluran tersebut menyebarkan konten spam dalam bahasa China tentang musik, hiburan, dan gaya hidup. “Sebagian kecil mengunggah konten dalam bahasa Inggris dan China mengenai peristiwa asing China dan AS,” ujarnya.
Selain itu, TAG juga menghapus satu akun AdSense dan satu akun pengembang Play milik jaringan yang terkait dengan Turki. “Kampanye ini berbagi konten dalam bahasa Arab tentang berita dan peristiwa terkini di Lybia.
Peneliti juga menghapus 42 saluran YouTube dan dua akun iklan bagian dari operasi terkoordinasi terkait dengan Irak. Kampanye ini mengunggah konten berbahasa Arab yang mendukung Partai Harakat Hoquq Irak. “Kami menerima petunjuk dari (perusahaan keamanan siber) Mandiant yang mendukung dalam penyelidikan ini,” ujar Shane.
Terpisah, menyangkut konflik Rusia-Ukraina terjadi, Google juga menaruh perhatian terhadap kampanye konten yang dianggap meresahkan.
"Tim intel ancamannya terus mengawasi dan mengganggu kampanye disinformasi, peretasan, dan penyalahgunaan bermotif finansial, dan bekerja dengan perusahaan lain dan badan pemerintah terkait untuk mengatasi ancaman ini," ujar perusahaan di akun Twitter-nya.
“Tim respons insiden kami secara aktif memantau perang di Ukraina dan bekerja sepanjang waktu, dengan fokus pada keselamatan dan keamanan karyawan, pengguna, dan pelanggan kami,” perusahaan menambahkan.[]
Share: