
Apple | Foto: Pexels
Apple | Foto: Pexels
Cyberthreat.id – Jen Simmons, tim pengembang web Safari dan WebKit, sedikit sewot di akun Twitter-nya awal Februari lalu.
Dalam cuitannya, ia tak terima jika peramban web Apple, Safari, disamakan dengan Internet Explorer yang kini telah pensiun.
Ia menyebut “semua orang” yang telah me-mention dirinya mengatakan, bahwa “Safari adalah yang terburuk, ini adalah IE baru…,” tulisnya.
“Dapatkah Anda merujuk ke bug tertentu dan dukungan yang hilang, sehingga membuat Anda frustrasi, menghambat Anda membuat situsweb/aplikasi,” lanjut Jen.
Ia meminta agar siapa saja yang mengeluhkan tentang Safari lebih baik memberikan informasi spesifik agar bisa diperbaiki. “Kebencian yang samar-samar sejujurnya super kontraproduktif,” katanya pada 8 Februari lalu.
Yang sangat disayangkan, katanya, masih ada orang yang mengungkit bug-bug (masalah atau gangguan) yang telah terjadi pada tahun-tahun lalu secara berulang-ulang. Padahal, bug tersebut telah diperbaiki.
“Mari kita bicara tentang bug saat ini, baik dukungan yang hilang atau sebagian untuk fitur baru. Beri tahu kami apa yang paling penting bagi Anda. Apa yang Anda inginkan, kami tangani terlebih dulu?” ujarnya.
Jika ada bug yang telah lampau dan tidak diperbaiki, ia meminta agar segera memberitahu. “Saya akan memeriksanya,” ujarnya.
Pengembang browser kini tengah bersaing ketat di tengah dominasi Google Chrome. Peramban milik Google kini bersaing ketat dengan Microsoft Edge meninggalkan Safari dan Firefox.
Berdasarkan statistik yang dilacak oleh situsweb w3counter, grafik Chrome sejak 2009-2021 terus mengalami kenaikan tiap tahun, tak bergeser di posisi puncak.
Sementara, Internet Explorer dan Edge yang merosot sejak 2007 hingga awal 2021, mulai bangkit di bulan April 2021. Bahkan, hingga awal Januari 2022, berdasarkan Desktop Browser Market Share StatCounter, Edge bergerak melampaui Safari di posisi kedua meski dengan kenaikan tipis.
Sementara, Safari sejak 2010 menunjukkan konsistensi di posisi kedua meski kalah jauh dari Chrome. Yang mengkhawatirkan adalah Firefox, merosot tajam dari tahun ke tahun, hampir sama dengan posisi Opera. Namun, awal 2022, Firefox mulai mengejar Edge dan Safari.
Baik Safari, Edge, dan Firefox terus bersaing merebutkan posisi kedua.
Sebagai referensi, Google Chrome memiliki pangsa 65,38 persen pada Januari 2022, terendah dalam 12 bulan terakhir setelah tertinggi 68,76 persen pada Juni 2021.
Meski Edge berbahaya bagi Safari di desktop, peramban Apple ini masih terus menikmati audiens yang cukup besar di tablet dan smartphone, tulis Apple Insider.
Secara regional, Safari berada di depan Edge seperti di Eropa, Asia, dan Amerika Utara.
Di Indonesia, Chrome masih tidak tergoyahkan di puncak, sedangkan di posisi kedua dipegang oleh Safari. Edge jauh di belakang, bahkan di bawah Firefox, justru masih bersaing dengan Samsung Internet, Opera, dan UC Browser.[]
Share: