IND | ENG
Solusi Media Tetap Hidup di Era Medsos Menurut Rudiantara

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara | Foto: kominfo.go.id

Solusi Media Tetap Hidup di Era Medsos Menurut Rudiantara
Andi Nugroho Diposting : Minggu, 14 Juli 2019 - 08:30 WIB

London, Cyberthreat.id – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memiliki keresahan terhadap “nasib” media cetak dan elektronik saat ini di tengah maraknya media sosial dan media online.

Menurut dia, secara umum kehadiran medsos dirasa cukup menggangu bisnis media massa sehingga bisnis media massa juga harus mencari model bisnis.

“Bisa dalam bentuk sebuah startup yang dimulai dari masalah penurunan sirkulasi media cetak,” kata dia dalam Konferensi Global tentang Kebebasan Media di Gedung Printworks London, Inggris, Kamis lalu, seperti dikutip dari situs web kominfo.go.id, Minggu (14 Juli 2019).

“Belum banyak solusi yang muncul dari masalah penurunan sirkulasi media cetak, meskipun bisnis ini menyangkut kehidupan banyak orang dan menjadi masalah yang terlihat di depan mata. Tidak ada yang mampu mengangkat tantangan menjadi peluang yang dicontohkan oleh startup dan unicorn yang mampu mengatasi masalah sosial," Rudiantara menambahkan.

Menkominfo melihat kecenderungan umum jatuhnya bisnis media cetak dalam beberapa tahun terakhir akhirnya bertransformasi dan pindah ke online. "Sungguh luar biasa jika bisnis media cetak dapat berinovasi untuk mengambil gaya startup dalam menghadapi gangguan bisnis media," ujar dia.

Bicara mengenai kondisi di Indonesia, tantangan terbesar bukan mengatur media mainstream, melainkan bagaimana mengelola media sosial dan platform online. "Tantangan kita me-manage media online, media sosial, video file sharing, dan instant messaging dibandingkan media mainstream sendiri," tutur Rudiantara.

Gotong Royong

Ada nilai yang dianut masyarakat Indonesia dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan tantangan itu. "Kita punya value yang tidak semua negara ada, ya gotong royong. Itu merupakan refleksi pendekatan ekosistem. Kolaborasi, kerja sama pendekatan ekosistem, pendekatan stakeholders harus tetap didorong. Semua harus berkontribusi dan diajak bagaimana menyelesaikan permasalahan," ujar dia.

Menurut dia, untuk antisipasi atas gangguan digital, media massa harus menyiapkan sumber daya inovatif. Mengutip  Clayton M Christensen, ia menyebutkan hal yang paling penting bukanlah teknologi.

"Clyaton pencetus teori gangguan menyebut teknologi yang mengganggu harus disebut sebagai tantangan pemasaran, bukan satu teknologi. Yang paling penting adalah sumber daya manusia dan kompetensi yang dapat menciptakan inovasi pemasaran baru," tutur Menkominfo.

Konferensi yang membahas isu perlindungan jurnalis dan media di London itu diikuti sekitar 1.000 peserta, termasuk menteri dan pejabat pemerintah, komunitas diplomatik, lembaga internasional, jurnalis, masyarakat sipil, dan akademisi.

#menkominfo   #rudiantara   #mediamassa   #mediasosial

Share:




BACA JUGA
Luncurkan Markas Aceh, Wamen Nezar Dorong Lahirnya Start Up Digital Baru
Ekonomi Digital Ciptakan 3,7 Juta Pekerjaan Tambahan pada 2025
INA Digital Mudahkan Masyarakat Akses Layanan Publik dalam Satu Aplikasi
Wamenkominfo Apresiasi Kolaborasi Tingkatkan Kapasitas Talenta AI Aceh
Utusan Setjen PBB: Indonesia Berpotensi jadi Episentrum Pengembangan AI Kawasan ASEAN