
Acer | Foto: .notebookcheck.net
Acer | Foto: .notebookcheck.net
Cyberthreat.id – Acer, produsen komputer asal Taiwan, dua kali mengalami peretasan oleh geng hacker yang sama dalam sepekan terakhir.
Pekan lalu, geng Desorden mengumumkan bahwa server Acer di India telah disusupi dan sejumlah data perusahaan telah diambil. Mereka menawarkan data berukuran lebih dari 60 GB yang berisi informasi jutaa pelanggan.
Geng Desorden mengklaim memiliki lebih dari 3.000 detail kredensial login dari ritel atau distributor Acer di India, 12.817 catatan pelanggan, dan lain-lain. Bahkan, mereka memberikan sampel data curia dalam bentuk video.
Sebelum serangan ke Acer, Desorden juga mengklaim telah melanggar ABX Express, anak perusahaan Kerry Logistics, pada September lalu dan mencuri 200 GB data, termasuk informasi pribadi pelanggan.
Acer mengakui bahwa kantor India memang mengalami serangan, tapi menyebutnya sebagai “serangan terisoloasi” yang hanya berdampak pada layanan purna jual lokal di India.
Kemudian, kurang dalam sepekan, Desorden kembali membuat geger. Dalam email kepada BleepingComputer, portal berita keamanan siber, geng tersebut mengaku telah melanggar server Acer di Taiwan pada 15 Oktober.
Penjahat siber itu mengklaim telah mengambil informasi karyawan dan produk Acer. Mereka juga membagikan gambar portal internal Acer Taiwan dan file .csv yang berisi kredensial login karyawan.
“Kami tidak meminta bayaran terpisah atas pelanggaran di Taiwan. Ini dimaksudnya hanya untuk membuktikan pendapat kami bahwa Acer telah mengabaikan keamanan sibernya,” tutur Desorden dikutip dari BleepingComputer, diakses Rabu (20 Oktober).
Tak hanya itu, Desorden juga menyebut bahwa kantor Acer di Malaysia dan Indonesia juga dalam kondisi sama, rentan untuk dieksploitasi.
Setelah dilapori oleh peretas soal serangan itu, Acer Taiwan mematikan server yang rentan. Perusahaan mengakui mengalami serangan siber di kantornya Taiwan, tapi hanya melibatkan data karyawan.
Ini serangan ketiga kali yang dialami Acer. Sebelumnya, pada Maret lalu, perusahaan disusupi ransomware REvil yang mengenkripsi jaringan mereka dan meminta tebusan US$50 juta.
Acer adalah perusahaan multinasional Taiwan yang berspesialisasi dalam perangkat keras dan elektronik dan vendor PC terbesar keenam di dunia berdasarkan penjualan unit, menurut Gartner, perusahaan riset dan konsultan teknologi.
Perusahaan memiliki sekitar 7.000 karyawan di 40 negara di seluruh dunia dan telah dilaporkan menghasilkan US$8,34 miliar pada tahun 2019.[]
Share: