
Debat Caketum APJII Minggu (26 September 2021). | Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat APJII/Cyberthreat.id
Debat Caketum APJII Minggu (26 September 2021). | Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat APJII/Cyberthreat.id
Cyberthreat.id – Enam calon ketua umum (caketum) Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) telah melakukan debat pada Minggu (26 September 2021) malam.
Debat publik kali ini menjadi sejarah baru di Musyawarah Nasional APJII. Acara yang berlangsung selama dua jam itu, mungkin belum sempurna atau setidaknya memenuhi harapan para anggota APJII yang berjumlah 500-an yang akan memilih caketum pada Selasa (28 September).
Namun, debat semalam jelas menjadi titik pertimbangan para anggota untuk memutuskan mana yang terbaik.
Kekurangan dari acara tersebut barangkali format debat yang tidak mengelaborasi pandangan-pandangan dari para caketum. Ini berbeda dari debat politik di pilpres atau pilkada.
Tiga panelis yang dihadirkan, seperti Direktur Aptika Kemenkominfo Semuel Abrijani Pangerapan juga pernah menjabat sebagai Ketum APJII, ), Sylvia W Sumarlin (Ketua Umum APJII 2006-2009), dan Sanjaya (Sekjen APJII 1999-2001) hanya sebatas menyampaikan pertanyaan, kurang mengejar dalam detail.
Satu caketum, satu pertanyaan—bukan satu pertanyaan, lalu dijawab oleh semua kandidat. Dengan format seperti ini, penonton debat hanya tahu jawaban atau pandangan dari satu orang saja, padahal isu atau pertanyaan yang diajukan oleh panelis, barangkali, adalah yang ditunggu-tunggu atau bakal menjadi pertimbangan para anggota APJII memilih.
Format debat itulah yang menyumbat tersampaikannya komitmen para kandidat kepada pemilih. Tidak tergambarkan bagaimana konsepsi-konsepsi para kandidat seandainya mereka terpilih menjadi ketua umum APJII.
Pertanyaan pertama diajukan oleh panelis Sylvia Sumarlin. Isinya ialah bagaimana menempatkan peran APJII untuk mengakrabkan anggotanya yang begitu besar.
Pertanyaan ini krusial, sebab sebuah asosiasi besar pasti rawan konflik, dan sayangnya, pertanyaan ini hanya ditujukan kepada Caketum nomor urut satu, yaitu Ayatullah Pascka P Salim (PT Juragan Online Solusi). Jawaban Ayatullah atau biasa dipanggila Baba ini juga tidak luas, hanya menggarisbawahi: “pertemuan-pertemuan stakeholder akan ditingkatkan.”
Ketika kembali dikejar oleh panelis tentang langkah konkret yang akan dilakukan soal “akrabisasi” anggota, Baba tetap menjawab sama.
Pertanyaan itu hanya berhenti di calon urut nomor satu, padahal penting juga melihat calon-calon lain memberikan pandangan atau rencana-rencana mereka terkait isu tersebut.
Melangkah di pertanyaan kedua, kini giliran panelis Semuel yang mengajukan pertanyaan. Pertanyaan ini sangat bagus karena konteks kekinian yang sedang berkembang luas tentang keamanan siber. Panelis bertanya tentang bagaimana posisi dan program APJII dalam mengatasi serangan siber yang sekarang ini semakin gencar.
Caketum nomor urut kedua, Agus Supriyadi (PT Java Online) yang mendapat jatah pertanyaan itu sedikit memberikan gambaran langkah-langkah dirinya jika terpilih sebagai ketum APJII. Ia menerangkan bahwa dirinya masih aktif di komunitas keamanan dan perlunya anggota komunitas ini dikerjasamakan dengan APJII.
Kedua, ia memang menyebut peran Internet Exchange (IX) dalam ketahanan siber, tapi tidak dijelaskan lebih lanjut. Selanjutnya, ia mendorong adanya workshop untuk anggota, kerja sama dengan pemerintah untuk memasang sensor, dan menyiapkan mitigasi.
Agus, yang berada di bidang keamanan internet unit IDNIC-APJII periode 2018-2021, juga menjelaskan bahwa di kepengurusan APJII sebelumnya telah dibuat program ketika menangani insiden siber. Program ini bisa dikembangkan lebih lanjut ke arah insiden lain atau bisa memberikan bantuan kepada para anggota APJII.
Sementara, lima kandidat lain sama sekali tak punya kesempatan untuk menyampaikan pandangannya tentang isu keamanan siber.
Pertanyaan-pertanyaan lain juga tak kalah menariknya seperti tantangan yang dihadapi penyedia layanan internet (ISP) saat ini, peran APJII dalam transformasi digital yang tengah digaungkan pemerintah, serta peran asosiasi dalam program legislasi nasional, terutama di Kementerian Kominfo.
Sesi saling bertanya
Pada sesi kedua, di mana para caketum saling bertanya dengan dipandu oleh moderator, kembali suasana debat juga kurang berhasil menggali komitmen dari masing-masing kandidat.
Terlihat dari pertanyaan yang diajukan masing-masing caketum cenderung “menggambarkan isu internal asosiasi yang hanya dipahami oleh para anggotanya”, padahal debat disiarkan secara langsung melalui YouTube dan potensial dilihat publik yang sama sekali tak tahu masalah internal.
Misal, kandidat nomor urut enam, Parlin Pasaribu (PT Wave Communication Indonesia), yang bertanya kepada calon nomor urut empat, Muhammad Arif Angga (PT Garuda Prima Internetindo). Parlin bertanya bagaimana tentang loyalitas Angga terhadap organisasi. Pertanyaan ini, jika publik telah mengetahui latar belakang Angga, cenderung mengarah pribadi, bukan menggali langkah nyata Angga ke depan jika terpilih. Terlebih, Parlin tak menyodorkan apa maksud loyalitas.
Angga sadar diri bahwa dirinya masih menjabat sebagai ketua Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) dan mengatakan bahwa jabatan itu baru berakhir pekan depan.
Hal sama juga ditanyakan kandidat nomor urut lima, Mangara Parpulungan Peranginangin (PT Medianusa Permana), kepada caketum nomor urut tiga, Zulfadly Syam (PT Bali Ning). Pertanyaannya: sudah setransparankah laporan keuangan di APJII dan bagaimana rencana laporan keuangan ke depan yang diterapkan?
Zul, panggilan akrab Zulfadly, memang bagus menjawabnya. Ia menuturkan bahwa transparansi dan pengawasan laporan keuangan harus kembali merujuk pada AD/ART asosiasi. Jika hal ini berjalan baik, transparansi itu bisa terwujud.
Pertanyaan itu memang bagus diajukan, tapi sedikit menjadi kurang wajar ketika Mangara kembali menanggapi, “Sudah seharusnya otomatis laporan keuangan APJII mulai dilakukan, terkait apa-apa yang ada di APJII diinformasikan yang lebih detail dan transparan, sehingga anggota lebih tahu: seberapa sibuknya pengurus dan waktu pengurus sekarang untuk mengurusi anggotanya (huruf miring, red),” ujarnya.
Apalagi Mangara dan Zul sama-sama dalam kepengurusan periode 2018-2021. Mangara menjabat Sekretaris Dewan Pengawas APJII periode 2018-2021, sedangkan Zul adalah Ketua Bidang Koordinasi & Pengembangan Wilayah.
Selanjutnya, ketika Caketum Agus Supriyadi bertanya kepada Parlin juga cenderung memojokkan. Agus bertanya tentang apa yang dicari di APJII: apakah proyek? Parlin sempat tersenyum mendengar itu, lalu menjawab dirinya tidak mencari proyek dan tidak mencari jabatan. (Baca selengkapnya: Caketum, Apa yang Anda Cari di APJII?)
Dari sesi tanya jawab tersebut, hanya tiga pertanyaan yang diajukan terlihat lebih menggali konsepsi dan program nyata dari caketum.
Pertama, ketika Caketum Ayatullah (Baba) bertanya kepada Caketum Mangara tentang apakah teknologi 5G bakal mematikan industri ISP.
Selanjutnya, pertanyaan yang diajukan Caketum Zulfadly kepada Ayatullah tentang banyak anggota di daerah belum memahami Internet Exhange dan apa manfaatnya terkoneksi ke IX. Zul meminta pendapat bagamana strategi untuk memberikan pemahaman kepada anggota di daerah terkait IX.
Dan, terkahir ketika Caketum Muhammad Arif Angga bertanya kepada Caketum Agus Supriyadi tentang bagaimana peran APJII mengkolaborasi anggotanya agar industri internet bisa berkelanjutan.[]
Share: