
Kepala BSSN Letjen (purn) Hinsa Siburian saat memberikan membuka FGD Sektor Pemerintah 2019 di Ancol, Jakarta, Rabu (10/07/2019) | Foto: Faisal Hafis
Kepala BSSN Letjen (purn) Hinsa Siburian saat memberikan membuka FGD Sektor Pemerintah 2019 di Ancol, Jakarta, Rabu (10/07/2019) | Foto: Faisal Hafis
Jakarta, Cyberthreat.id - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen (purn) Hinsa Siburian menyebut perang generasi kelima menyerang jantung dan otak Bangsa Indonesia.
Menurut dia, perang yang terjadi sekarang adalah perang informasi teknologi dan perang siber yang jauh berbeda dengan perang generasi sebelumnya.
Tipe serangan perang generasi kelima adalah menyerang langsung ke pusat kekuatan. Jika diibaratkan tubuh manusia, maka pusat kekuatan itu adalah jantung dan otak atau disebut center of gravity dari sebuah negara. Serangan akan diarahkan langsung ke pusat kekuatan.
"Pertanyaannya, apakah pusat kekuatan bangsa Indonesia? Ya, sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia," kata Hinsa Siburian saat memberikan paparan di hadapan perwakilan pemerintah daerah se-Indonesia di Jakarta, Rabu (10 Juli 2019).
Ia mencontohkan bagaimana perang generasi kelima tidak memerlukan lagi serangan fisik secara langsung.
Tipe perang secara fisik, kata dia, adalah perang generasi ketiga seperti Perang Teluk di Timur Tengah pada awal tahun 1990-an atau perang generasi keempat seperti serangan teroris ke menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat tahun 2001.
"Bagaimana kalau misalnya sistem PLN kita dimatikan di Jakarta. Atau sistem transportasi kita diserang dan kekuatan finansial kita diretas. Ini akan bikin kacau sehingga kita harus bersatu," kata dia.
Pola serangan menurut Hinsa terbagi dua. Pertama, serangan terhadap Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional (IIKN) yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Sifatnya melumpuhkan serta menyerang kesejahteraan atau kemakmuran bangsa.
Baca: BSSN Petakan 10 Sektor Rawan Serangan Siber
Kedua, serangan non fisik yang menyasar hati dan pikiran orang banyak lewat arus informasi negatif, disinformasi atau hoaks yang bertujuan mengacaukan masyarakat. Akibatnya, terjadi konflik atau kemungkinan terburuk muncul peperangan fisik besar-besaran.
"Makanya kalau kita lihat hoaks itu bagian serangan dan salah satu ada ciri-ciri perang siber adalah kita tidak tahu asal usulnya, sumbernya siapa dan pelakunya siapa."
"Yang penting adalah bagaimana kita bersatu dulu dan itu semua tergantung kita sendiri."
Share: