IND | ENG
Minimarket Tanpa Kasir: Kala Algoritma Tahu Segala yang Anda Beli

Salah seorang pelanggan di Carrefour City+ di Dubai, UEA. | Foto: africazine.com

Minimarket Tanpa Kasir: Kala Algoritma Tahu Segala yang Anda Beli
Andi Nugroho Diposting : Rabu, 08 September 2021 - 16:47 WIB

Cyberthreat.id – Di tengah gelombang disrupsi teknologi, sektor ritel mulai mengembangkan layanan minimarket tanpa kasir. Ya, Anda tidak akan dilayani sama sekali oleh seorang karyawan toko.

Barang dipindai dengan sensor atau aplikasi ponsel pintar, bayar tagihan secara online, selanjutnya Anda tinggal pergi keluar minimarket.

Mengikuti jejak Amazon yang membuka toko offline tanpa kasirnya, Amazon Go pada 2018, perusahaan ritel terkemuka asal Prancis, Carrefour, melakukan hal serupa. Dengan menyasar pasar Dubai, kota terpadat di Uni Emirat Arab, mereka membangun Carrefour City+.

Minimarket itu tak ubahnya seperti toko serba ada (toserba) dipenuhi makanan ringan dan minuman soda. Namun, di antara tarif barang-barang yang dijual, terdapat sistem canggih yang tersembunyi, yang melacak pergerakan pembeli.

Sistem itulah yang menghilangkan antrean pembeli saat di kasir atau check out, memungkinkan pembeli langsung mengambil barang, lalu pergi.

Tentu, mereka harus memiliki ponsel pintar yang terlebih dulu menginstal aplikasi toko untuk bisa membeli atau masuk ke toko.

“Terdapat hampir 100 kamera pengintai kecil yang menyelimuti langit-langit (minimarket). Sensor yang tak terhitung jumlahnya melapisi tiap rak,” tuli The Associated Press, diakses Rabu (8 September 2021).

Pemindaian saat masuk ke minimarket Carrefour City+ dengan aplikasi MAF Carrefour di ponsel pintar. | Foto: thenationalnews.com


Pintu masuk di minimarket Carrefour City+. | Foto: curlytales.com


Aplikasi kode QR MAF Carrefour untuk masuk toko. | Foto: thenationalnews.com


Lima menit setelah pembeli pergi, ponsel mereka mendapat ping dengan tanda terima untuk segala yang mereka taruh di keranjang belanja virtual.

Kamera sensor membantu mendeteksi saat pembeli mengambil atau meletakkan produk, sehingga keranjang virtual mereka diperbarui secara otomatis.

Pembayaran dilakukan melalui aplikasi MAF Carrefour, diselesaikan hanya dengan berjalan keluar toko.

Setelah pembeli meninggalkan toko, jumlah total keranjang virtual mereka secara otomatis dibebankan ke kartu pembayaran terdaftar dan tanda terima digital dikirim melalui aplikasi, dikutip dari The Nationa News.

Meski tanpa kasir, staf toko tetap ada untuk membantu pelanggan menemukan barang di rak dan menjawab pertanyaan pembeli. Saat ini, toko hanya akan mengizinkan 10 pembeli dalam satu waktu karena peraturan selama pandemi Covid-19. Pembeli yang memindai kode QR untuk memasuki toko saat kapasitas penuh akan diberi tahu oleh aplikasi dan diminta untuk menunggu hingga pembeli lain pergi.

“Beginilah masa depan akan terlihat,” tutur Hani Weiss, CEO Majid Al Futtaim Retail, waralaba yang mengoperasikan Carrefour di Timur Tengah.

“Kami percaya pada toko fisik di masa depan, tapi kami yakin pengalaman (berbelanja masyarakat, red) akan berubah,” ujarnya.

Carrefour City+ bisa disebut “toko online” di dunia offline. Ini lantaran pembeli juga langsung dilayani sistem, tanpa sebuah kasir. Minimarket ini mengadopsi teknologi otomatisasi yang saat ini sedang berkembang.

Carrefour menggabungkan perangkat lunak pembelajaran mesin (ML) dan kecerdasan buatan (AI) dalam membangun minimarketnya.

Layaknya toko online, minimarket futuristik itu juga mengumpulkan data penting pembeli, terutama tentang perilaku berbelanja.

“Kami menggunakan (data) untuk memberikan pengalaman yang lebih baik di masa depan … di mana pelanggan tidak perlu memikirkan produk berikutnya yang mereka inginkan,” kata Weiss.

“Semua pengetahuan digunakan secara internal untuk memberikan pengalaman berbelanja yang lebih baik.”

Dengan kata lain, algoritma aplikasi toko Carrefour City+ mengetahui dan menyarankan produk-produk apa saja yang sekirannya potensial untuk pelanggannya.

Untuk bisa seperti itu, aplikasi meminta data perilaku pelanggan. Mereka harus memberikan izin kepada Carrefour untuk mengumpulkan informasi aktivitas belanja.

Namun, gagasan seperti itu, yang mengumpulkan banyak data tentang kebiasaan pembeli, bisa menimbulkan kekhawatiran privasi.

Ditanya tentang privasi dan keamanan data pelanggan, Weiss berjanji data-data pelanggan tidak akan dibagikan ke pihak lain.

Pandemi Covid-19 yang memaksa peritel besar melihat kembali masa depan, banyak yang semakin berinvestasi dalam otomatisasi, di sisi lain juga menjadi ancaman pekerjaan di seluruh industri.

Apakah toko canggih tersebut bakal menghilangkan peran manusia sama sekali? Carrefour mengatakan bahwa pekerja manusia, setidaknya dalam jangka pendek, masih diperlukan untuk "mendukung pelanggan" dan membantu mesin.

“Tidak ada masa depan tanpa manusia,” kata Weiss.[]

#carrefour   #amazongo   #carrefourcity+   #dubai   #minimarkettanpakasir   #AI   #ML

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Microsoft Ungkap Aktivitas Peretas Rusia Midnight Blizzard
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
Microsoft Merilis PyRIT - Alat Red Teaming untuk AI Generatif
Utusan Setjen PBB: Indonesia Berpotensi jadi Episentrum Pengembangan AI Kawasan ASEAN