
Facebook | Foto: Unsplash
Facebook | Foto: Unsplash
Cyberthreat.id – Ratusan akun media sosial dihapus karena mendistribusikan informasi yang menyesatkan tentang vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Pfizer asal Amerika Serikat dan AstraZeneca asal Inggris.
Penelusuran Facebook menyebutkan, sebanyak 65 akun Facebook dan 243 akun Instagram tersebut dioperasikan oleh Fazze, sebuah perusahaan periklanan dan pemasaran yang bekerja di Rusia.
Namun, tak diketahui atas nama siapa permintaan distribusi iklan menyesatkan tentang vaksin tersebut, tulis The Associated Press, Rabu (11 Agustus 2021).
Menurut Reuters, Fazze adalah anak perusahaan dari agen pemasaran yang terdaftar di Inggris, AdNow. Selain akun medsos, Facebook juga menemukan artikel dan petisi yang disebarkan di Reddit, Medium, dan Change.org.
Facebook mengatakan operasi terkait Rusia itu dimulai dengan pembuatan sejumlah akun palsu pada 2020, kemungkinan berasal dari “account farm” (produsen akun palsu) di Bangladesh dan Pakistan, yang berpura-pura berbasis di India.
Salah satu kampanye menyesatkan, yaitu jaringan itu mengunggah meme dan komentar pada November dan Desember 2020 yang mengklaim vaksin AstraZeneca akan mengubah orang menjadi simpanse—mereka sering menggunakan adegan dari film "Planet of the Apes" 1968.
Lalu, pada Mei 2021, setelah lima bulan tidak aktif, menurut Facebook, akun-akun itu kembali beraksi dan mulai mempertanyakan keamanan vaksin Pfizer dengan melampirkan dokumen AstraZeneca yang diduga "diretas dan bocor".
Akun-akun palsu tersebut menargetkan audiens di India, Amerika Latin, sebagian kecil AS.
Menurut Kepala Kebijakan Keamanan Facebook, Nathaniel Gleicher, pada jumpa pers, Selasa lalu, jaringan agen periklanan itu juga telah mengontak sejumlah influencer media sosial di sejumlah negara. Dengan tawaran pembayaran, mereka diminta untuk mengunggah ulang konten-konten yang mengkritik pemberitaan media tentang vaksin.
Sayangnya, taktik itu menjadi bumerang ketika influencer di Jerman dan Prancis justru mengungkapkan tawaran dari jaringan Fazze.
Lantaran kasus tersebut, kata Gleicher, Fazze dilarang di platform milik Facebook.
Tim penyelidik Facebook mengatakan beberapa influencer memang mengunggah materi yang ditawarkan tersebut, tetapi kemudian menghapusnya.
YouTuber Prancis Léo Grasset, termasuk salah satu yang dihubungi oleh Fazze. Dia mengatakan kepada The Associated Press pada Mei lalu bahwa dia diminta untuk mengunggah video berdurasi 45 hingga 60 detik di Instagram, TikTok, atau YouTube yang mengkritik tingkat kematian vaksin Pfizer.
Ketika Grasset meminta Fazze untuk mengungkap siapa klien yang menyuruhnya itu, perusahaan menolak. Grasset menolak tawaran itu.
Rusia saat ini tengah mengampanyekan vaksin Covid-19 bernama Sputnik V. Namun, apakah akun-akun tersebut berkaitan dengan Rusia, tidak jelas. Penyelidikan Facebook tidak mau berspekulasi tentang motivasi di balik kampanye kotor agen periklanan tersebut.[]
Share: