
iPhone | Foto: The Verge
iPhone | Foto: The Verge
Cyberthreat.id – Apple memutuskan untuk tetap menggandeng perusahaan China untuk memproduksi iPhone barunya di tengah konflik perang dagang Amerika Serikat-China.
Kabar itu pertama kali diberitakan oleh surat kabar Nikkei Jepang, Rabu (4 Agustus 2021). Gara-gara perang dagang, lebih-lebih dampak pandemi Covid-19, Apple mengeluhkan krisis pasokan komponen semikonduktornya. Ini sempat dikatakan oleh Bos Apple Tim Cook pada Juli lalu.
Menurut laporan Nikkei, dikutip dari Reuters, diakses Jumat (6 Agustus), sejumlah perusahaan yang digandeng produsen iPhone, antara lain Luxshare Precision Industry Co Ltd (dikabarkan membuat seri iPhone 13), Lens Tech Co Ltd (memasok bodi/casing logam), dan Sunny Optical Tech Group Co Ltd (memasok lensa kamera belakang), serta BOE Tech Group Co Ltd menyediakan pasokan komponen panel OED.
Sumber Nikkei mengatakan Apple berencana memproduksi antara 90 juta hingga 95 juta iPhone hingga Januari 2022 dan Luxshare telah mendapatkan kontrak 3 persen pesanan, menjadi pesaing Foxconn dan Pegatron yang selama ini membuat iPhone.
Selama ini Luxshare dikenal berpengalaman dalam memproduksi AirPods dan modul mesin haptic, modul kamera, dan bingka logam untuk iPhone.
Apple memanfaatkan lebih banyak pemasok China untuk peran kunci memproduksi iPhone baru, sebuah tanda bahwa daya saing teknologi negara tersebut terus meningkat meskipun AS berupaya mengendalikan ambisi teknologi China, tulis 9to5Mac.
Model iPhone 13 diperkirakan mulai beredar bulan depan dengan empat model berukuran 5,4 inci, 6,1 inci, dan 6,7 inci—dua model “Pro” sebagai iPhone kelas atas dan dua lagi diposisikan sebagai perangkat berbiaya rendah yang lebih terjangkau, tulis Mac Rumors.[]
Share: