IND | ENG
Survei: Kebijakan Keamanan Siber Perusahaan Berubah Sejak Kerja Jarak Jauh

Ilustrasi | Foto: freepik.com

Survei: Kebijakan Keamanan Siber Perusahaan Berubah Sejak Kerja Jarak Jauh
Andi Nugroho Diposting : Kamis, 05 Agustus 2021 - 13:55 WIB

Cyberthreat.id – Banyak perusahaan di dunia yang mengubah kebijakan keamanan sibernya di tengah peralihan kerja jarak jauh dan peningkatan serangan siber selama pandemi Covid-19.

Demikian dalam laporan The 2021 Digital Readiness Survey yang dirilis akhir Juli lalu oleh ManageEngine, divisi manajemen TI enterprise dari Zoho Corporation.

Sebagian besar responden (93 persen)  mengungkapkan bahwa berbagai ancaman keamanan meningkat karena dampak pandemi Covid-19. Gambaran ini setidaknya terlihat dari 84 persen responden mengakui para pekerja jarak jauh membawa tantangan tambahan tersendiri terkait infrastruktur keamanan.

“Bayang-bayang ancaman TI tampak cukup besar, yaitu 78 persen responden global menyebutkan bahwa pekerja jarak jauh mengunduh perangkat lunak tanpa mendapatkan persetujuan dari departemen TI,” tutur ManageEngine dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Cyberthreat.id, Kamis (5 Agustus 2021).

 “Hal ini yang secara signifikan meningkatkan potensi pelanggaran keamanan dan kehilangan data,” perusahaan menambahkan.

Survei dilakukan di Singapura, India, Amerika Utara, Inggris, Australia, dan Selandia Baru. Jumlah responden sebanyak 1.210 orang, khususnya di kalangan TI eksekutif dan profesional. Khusus di Singapura, survei diambil dari lebih dari 100 personel di perusahaan dengan jumlah karyawan lebih dari 500 orang.

Hasil survei juga menyebutkan masih rendahnya tingkat penerapan strategi “zero trust” di berbagai perusahaan yang disurvei. Jumlah rata-rata global hanya 31 persen perusahaan yang menerapkan strategi tersebut.

Zero trust merupakan sebuah model pendekatan agar segala sesuatu yang mencoba terhubung ke sistem teknologi informasi (TI) diverifikasi terlebih dulu sebelum akses diberikan.

Di Singapura, sejumlah perusahaan relatif lebih baik dalam mengadopsi pendekatan zero trust untuk melindungi jaringan mereka. Namun, secara khusus, perusahaan-perusahaan di Singapura kian rentan karena instalasi perangkat lunak yang tidak lazim, terutama tool meeting online (59 persen), aplikasi seluler (43 persen), dan solusi berbagi dokumen (42 persen).

“Sangat memprihatinkan ketika banyak perusahaan yang kurang mementingkan keamanannya dibanding mereka yang serius menggarap keseluruhan sistem keamanan perusahaan. Perusahaan harus mengambil sikap tegas untuk keamanan dengan melatih para karyawan, investasi dalam solusi pencegahan dan menerapkan pendekatan zero trust,” kata Rajesh Ganesan, Vice President of ManageEngine.

Temuan inti lainnya dari survei, antara lain:

  • Dalam dua tahun ke depan, 96 persen responden global mengharapkan organisasi mereka mendukung pekerja jarak jauh.
  • Masa pandemi telah meningkatkan ketergantungan pada solusi cloud, tetapi 56 persen responden global mengatakan keamanan cloud tetap menjadi perhatian utama.
  • Tiga masalah keamanan teratas di dunia bisnis global antara lain phishing (52 persen), serangan pada jaringan endpoint termasuk perangkat karyawan di jaringan rumah dan edge (42 persen), dan malware (40 persen).
  • Responden global menilai peningkatan keamanan sebagai pendorong utama adopsi teknologi sebesar 56 persen, sedangkan pendorong utama untuk perusahaan Singapura adalah peningkatan keandalan saat membuat keputusan (62 persen).[]
#serangansiber   #ancamansiber   #keamanansiber   #WFH   #workfromhome   #covid-19   #manageengine

Share:




BACA JUGA
Seni Menjaga Identitas Non-Manusia
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
SiCat: Inovasi Alat Keamanan Siber Open Source untuk Perlindungan Optimal
BSSN Selenggarakan Workshop Tanggap Insiden Siber Sektor Keuangan, Perdagangan dan Pariwisata
Pentingnya Penetration Testing dalam Perlindungan Data Pelanggan