IND | ENG
Hadapi Ancaman Musuh, Pentagon Uji Coba Pengumpulan Data Berbasis AI

Pentagon | Foto: militarytimes.com

Hadapi Ancaman Musuh, Pentagon Uji Coba Pengumpulan Data Berbasis AI
Andi Nugroho Diposting : Rabu, 04 Agustus 2021 - 16:45 WIB

Cyberthreat.id – Militer Amerika Serikat sedang menguji alat pengumpulan data yang dikombinasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi gerakan ancaman musuh.

Program bernama Global Information Dominance Experiment (GIDE) itu dirancang guna mendapatkan akses ke informasi real-time sehingga bisa membantu pemimpin militer membuat keputusan untuk merespon atau mencegah ancaman yang terdeteksi.

Dalam simulasinya, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) mencoba mengambil alih Terusan Panama. Komandan Komando Utara AS (Northcom), Glen VanHerck, mengatakan, selama operasi simulasi, data dikumpulkan dari berbagai sensor yang tersebar di seluruh dunia baik militer maupun sipil.

Informasi yang dikumpulkan kemudian diolah melalui model AI yang mampu mendeteksi pola dan memberikan peringatan ketika ada tanda-tanda, misal, saat kapal selam mulai bergerak menyerang.

Uji coba teknologi tersebut, menurut VanHerk, sebagai bagian dari langkah proaktif ketimbang bersikap reaktif ketika terjadi serangan.

Dari mana pengumpulan data dilakukan? Menurut dia, pengumpulan informasi secara real-time berasal dari satelit, radar, sensor bawah laut, serta kemampuan siber dan intel. Seluruh data yang dikumpulkan tersedia di cloud, lalu diproses oleh model AI.

Semua tumpukan basis data, kata VanHerck, membutuhkan waktu berjam-jam dan berhari-hari untuk dianalisis secara khusus sebelum menghasilkan pola yang menarik.

“Perlu dicatat, bahwa ini bukan informasi baru, ini informasi yang hari ini tidak dianalisis dan diproses sampai nanti dalam siklus waktu tertentu jika Anda menginginkannya,” kata dia seperti dikutip dari ZDNet, diakses Rabu (4 Agustus 2021).

Meski begitu, kata dia, dalam setiap analisis dibutuhkan kecepatan untuk segera dibagikan ke atasan agar bisa diambil sebuah keputusan.

Pola data yang dihasilkan, VanHerck, bahkan bisa menghitung jumlah rata-rata mobil di tempat parkir di lokasi musuh, menghitung pesawat yang diparkir, bahkan bisa melihat rudal yang sedang dipersiapkan untuk dilepaskan.

Eksperimen GIDE tersebut juga dijalankan bersama dengan program lain di Departemen Pertahanan AS, seperti Project Maven–sebuah inisiatif yang memicu kontroversi pada 2018 ketika karyawan Google memberontak terhadap keterlibatan perusahaan dalam inisiatif tersebut.

Setelah Google dikontrak untuk membantu membangun teknologi untuk Project Maven, bertujuan untuk mengembangkan AI yang dapat melihat manusia dan objek dalam jumlah besar video yang diambil oleh drone militer, ribuan staf meneken petisi yang meminta perusahaan mundur. Karyawan mengkhawatirkan dirinya bisa terlibat dalam inisiatif yang berkontribusi untuk mengidentifikasi target potensial.

Melihat kekhawatiran seperti itu, VanHerck menuturkan, bahw setiap keputusan yang diambil dalam uji coba GIDE masih dipegang oleh manusia, bukan diserahkan pada mesin.

“Kami tidak memiliki mesin yang membuat keputusan," katanya. "Kami tidak mengandalkan komputer untuk membawa kami membuat opsi pencegahan atau opsi kekalahan."

Menurut VanHerck, kemampuan perangkat lunak yang diujicobakan di GIDE sudah tersedia dan siap digunakan di seluruh komando prajurit.

Untuk mencegah dampak teknologi tersebut, ia mengatakan, butuh kolaborasi dengan negara sekutu dan mitra internasional yang dapat dilibatkan untuk berpartisipasi dalam pertukaran global intelijen real-time.[]

#pentagon   #AI   #perang   #pengumpulandata   #kecerdasanbuatan   #militerAS

Share:




BACA JUGA
Demokratisasi AI dan Privasi
Indonesia Dorong Terapkan Tata Kelola AI yang Adil dan Inklusif
Wamenkominfo Apresiasi Kolaborasi Tingkatkan Kapasitas Talenta AI Aceh
Microsoft Merilis PyRIT - Alat Red Teaming untuk AI Generatif
Utusan Setjen PBB: Indonesia Berpotensi jadi Episentrum Pengembangan AI Kawasan ASEAN