
Ilustrasi via Dunya News
Ilustrasi via Dunya News
Cyberthreat.id - Otoritas keamanan siber China, Cyberspace Administration of China (CAC), mengatakan pada hari Jumat bahwa pejabat dari setidaknya tujuh departemen mengirim tim untuk meninjau penerapan keamanan siber oleh perusahaan aplikasi transportasi online Didi Global Inc.
Seperti diketahui, pemerintah China mulai bertindak keras terhadap Didi setelah perusahaan yang didirikan di Beijing itu melantai di bursa saham New York Stok Exchange awal bulan ini. Sebelumnya, CAC meminta aplikasi Didi dikeluarkan dari app store China dengan tuduhan telah mengumpulkan data pribadi pengguna secara ilegal.
Dalam pernyataan terbarunya seperti dilaporkan Reuters pada Jumat (16 Juli 2021), regulator China yang menyelidiki Didi termasuk CAC, Kementerian Keamanan Publik, Kementerian Keamanan Negara, Kementerian Transportasi, Kementerian Sumber Daya Alam, Administrasi Perpajakan Negara dan Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar.
CAC tidak memberikan rincian lebih lanjut dalam pernyataannya. Namun, keterlibatan beberapa lembaga pemerintah menunjukkan tekanan regulasi yang lebih berat pada perusahaan berusia sembilan tahun itu.
China sedang dalam proses pembenahan kebijakannya terhadap privasi dan keamanan data. Merreka sedang menyusun Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi, yang menyerukan platform teknologi untuk memberlakukan tindakan yang lebih ketat untuk memastikan penyimpanan data pengguna yang aman.
Pada September mendatang, China akan menerapkan Undang-Undang Keamanan Data, yang mengharuskan perusahaan yang memproses "data penting" untuk melakukan penilaian risiko dan menyerahkan laporan. Aturan itu juga meminta organisasi yang memproses data yang mempengaruhi keamanan nasional China untuk tunduk pada tinjauan tahunan.
CAC meluncurkan penyelidikan keamanan siber terkait data ke Didi hanya dua hari setelah mengumpulkan US$4,4 miliar dari penawaran umum perdana di New York, dengan alasan perlunya melindungi keamanan nasional dan kepentingan publik. Regulator juga memerintahkan Didi untuk menghapus aplikasinya di China yang menurut Didi dapat merugikan pendapatannya.
Didi, yang saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$60 miliar, tidak segera menanggapi permintaan komentar atas pernyataan baru CAC. Sebelumnya dikatakan merereka menyimpan semua pengguna China dan data jalan di China.
Didirikan pada 2012 oleh mantan eksekutif Alibaba, Cheng Wei, Didi Chuxing adalah penguasa 94,6 persen pasar transportasi online di China. Mitra pengemudinya mencapai 21 juta orang.
Peneliti di China meyakini salah satu kunci utama kesuksesan Didi Chuxing karena pemanfaatan big data. Itu seperti diutarakan oleh Julie Yujie Chen, peneliti pada The Centre for Chinese Media and Comparative Communication Research, Hong Kong dalam studi berjudul "Digital Utility: Datafication, Regulation, Labor, and Didi's Platformization of Urban Transport in China" yang dipublikasikan di Chinese Journal of Communication 2019 seperti dilansir Tirto.id.
Melalui data yang dihimpun, pada 2015 Didi ketahuan mem-profiling pegawai-pegawai dari berbagai Kementerian di Cina. Menciptakan database tentang riwayat perjalanan pegawai-pegawai negeri itu. Namun, saat itu tak ada hukuman yang dijatuhkan oleh pemerintah.
Lantas, mengapa hukuman dijatuhkan setelah Didi melantai di bursa New York? Sejauh ini, belum ada jawaban yang terang benderang selain masalah pengumpulan data. Namun, para pengamat meyakini pemerintah China khawatir kumpulan data besar tentang pengguna China yang dimiliki oleh Didi berisiko ditempatkan di luar negeri setelah perusahaan itu membuka diri untuk investasi di Amerika Serikat.[]
Share: