IND | ENG
Inggris Larang Binance Market Bertransaksi Cryptocurrency

Binance, salah satu tempat penukaran Bitcoin terbesar di dunia. | Foto: iconow.net

Inggris Larang Binance Market Bertransaksi Cryptocurrency
Andi Nugroho Diposting : Senin, 28 Juni 2021 - 10:20 WIB

Cyberthreat.id – Pemerintah Inggris mengeluarkan keputusan agar Binance Market Ltd, “tidak boleh, tanpa persetujuan tertulis sebelumnya dari Financial Conduct Authority (FCA) untuk melakukan aktivitas apa pun.”

Binance Market Ltd adalah entitas di Inggris yang terafiliasi dengan Binance, salah satu pertukaran mata uang kripto (cryptocurrency) terbesar di dunia.

Larangan tak boleh bertransaksi itu dikeluarkan FCA pada 25 Juni lalu, demikian dikutip dari Reuters, Senin (28 Juni 2021). Peringatan tersebut ditujukan kepada konsumen untuk lebih berhati-hati dengan Binance Markets dan grup Binance lain.

Binance mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Binance Markets, yang diakuisisi pada 2020, belum menggunakan izin peraturannya. Namun, peringatan FCA tersebut dianggap tidak akan memengaruhi layanan yang ditawarkan di situs web Binance.com.

"Kami mengambil pendekatan kolaboratif dalam bekerja dengan regulator dan kami menjalankan kewajiban kepatuhan kami dengan sangat serius. Kami secara aktif mengikuti perubahan kebijakan, aturan, dan undang-undang di ruang baru ini," kata seorang juru bicara Binance.

Binance mengumumkan pada Juni 2020 bahwa mereka telah membeli entitas yang diatur oleh FCA dan akan menggunakannya untuk menawarkan layanan perdagangan cryptocurrency berbasis poundsterling dan euro.

Meskipun perdagangan mata uang kripto tidak diatur secara langsung di Inggris, menawarkan layanan seperti perdagangan mata uang kripto memang memerlukan otorisasi.

FCA telah memperingkatkan Binance agar pada 30 Juni mendatang mereka harus menampilkan pemberitahuan yang menyatakan "BINANCE MARKETS LIMITED TIDAK DIIZINKAN UNTUK MELAKUKAN AKTIVITAS APAPUN DI INGGRIS" di situs web dan saluran media sosialnya.

Hal tersebut termasuk mengamankan dan menyimpan semua catatan yang berkaitan dengan konsumen Inggris. Semuanya itu harus telah dilakukan dan dilaporkan ke FCA sebelum 2 Juli.

Regulator tidak menjelaskan mengapa mereka mengambil tindakan ini. Namun, warga negara Inggris masih dapat mengakses layanan Binance di yurisdiksi lain.

Sejak Januari, FCA telah mewajibkan semua perusahaan yang menawarkan layanan terkait cryptocurrency untuk mendaftar dan menunjukkan bahwa mereka mematuhi aturan anti-pencucian uang. Namun, kata FCA, awal Juni hanya lima perusahaan yang telah mendaftar dan mayoritas belum mematuhi aturan yang berlaku.

Sementara, pemerintah Jepang mengatakan pada 25 Juni lalu bahwa Binance beroperasi di negara itu secara ilegal. Notifikasi itu cukup mengejutkan yang diunggah di situs web Badan Layanan Keuangan Jepang.

Medio Juni lalu, Binance juga mengungkapkan bahwa geng peretas “FANCYCAT” di balik operasi yang bertanggung jawab menguangkan dan mencuci cryptocurrency yang diperoleh secara ilegal oleh kartel ransomware Clop dengan meretas sistem dan memeras korban. (Baca: Bursa Kripto Binance Sebut Fancycat Bantu Geng Ransomware Clop Cuci Uang Rp7 Triliun)

Mei lalu, Bloomberg juga melaporkan bahwa pejabat dari Departemen Kehakiman AS dan Internal Revenue Service juga sedang menyelidiki dugaan  pencucian uang dan pelanggaran pajak dari seseorang terkait Binance.

Soso di balik Binance

Binance adalah salah satu perusahaan penyedia penukaran mata uang digital terbesar di dunia. Menurut Forbes, Binance tumbuh menjadi paling besar di planet ini hanya dalam waktu kurang dari 180 hari.


Berita Terkait:


Awal 2019, tercatat volume perdagangan harian di Binance mencapai 500 juta. Binance sendiri mengklaim memiliki pangsa pasar di bisnis kriptokurensi sebesar 25 persen.

Binance yang berdiri pada 1 Juli 2017 adalah buah hasil kerja keras Changpeng Zhao. Pada awal-awal berdiri, Binance menawarkan koin yang disebut Binance Coin (BNB). Saat itu satu koin BNB setara dengan US$ 10 dan saat ini sekitar US$ 20.

Forbes menempatkan Zhao dalam Daftar Orang Terkaya di China di posisi 216 dengan nilai kekayaan sekitar Rp17,17 triliun.

Changpeng Zhao atau lebih dikenal dengan CZ, begitu juga namanya di Twitter, lahir di Jiangsu, China pada 1977. Ayahnya seorang profesor yang dicap sebagai intelektual pro borjuis dan pernah diasingkan sementara tidak lama setelah CZ lahir dan menetap di Kanada.

CZ tumbuh sebagai anak remaja di Vancouver, Amerika Serikat. Pada 1980-an, ia bekerja membantu keluarganya menjadi karyawan di McDonald's dan bekerja pada malam hari di sebuah pompa bensin. Ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas McGill dengan mengambil jurusan Ilmu Komputer, tapi sangat berminat pada pasar saham dan perdagangan.

Sebelum Binance berdiri, pada 2005 CZ mendirikan Fusion di Shanghai. Fusion, seperti dikutip dari Cryptopotato.com, adalah platform perdagangan untuk broker. Selanjutnya, ia mulai berjualan mata uang digital pada 2013 melalui blockchain.info.

Pada tahun berikutnya, ia menjual apartemennya di Shanghai seharga US$ 1 juta untuk dipakai dalam investasi Bitcoin.

Seperti Steve Jobs, CZ selalu berpakaian hitam-hitam ke mana saja ia pergi. Ia juga tidak menyukai mobil dan rumah meski dalam promosi perusahaannya ia memberikah hadiah Lamborghini, tulis Cryptopotato.com.

Meski sebagai sosok miliarder, CZ dikenal sebagai orang yang ramah. Caranya berbicara, tulis Fortune, bukanlah seorang pembual.[]

#binance   #inggris   #cryptocurrency   #matauangkripto

Share:




BACA JUGA
Malware Docker Terbaru, Mencuri CPU untuk Crypto & Mendorong Lalu Lintas Situs Web Palsu
Mengapa Apple Menentang Undang-Undang Keamanan Daring Inggris?
Serangan Tanpa File PyLoose Berbasis Python Targetkan Beban Kerja Cloud untuk Penambangan Cryptocurrency
Pertukaran Cryptocurrency Jepang Menjadi Korban Serangan Backdoor macOS JokerSpy
Baru! Penambangan Ilegal Cryptocurrency Targetkan Sistem Linux dan Perangkat IoT