
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Cyberthreat.id – Direktur Utama Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC), Lindy Cameron, mengatakan, ransomware menjadi ancaman terbesar keamanan online bagi berbagai sektor di Inggris.
Menurut dia, serangan yang berupa mengenkripsi data dan meminta uang tebusan untuk bisa memulihkan sistem elektronik organisasi itu kini semakin meningkat dan profesional.
“Untuk sebagian besar warga negara dan bisnis Inggris, ancaman utama bukanlah aktor negara, tapi penjahat siber,” ujar Cameron saat berbicara dengan sebuah lembaga thinktank, Rusi, Senin (14 Juni 2021) waktu setempat, dikutip dari The Guardian.
Pada KTT G7 di Cornwall, Minggu (13 Juni), para pemimpin negara-negara industri terkemuka sepakat untuk mengambil langkah-langkah mengatasi serangan ransomware.
Dalam kutipan pidato yang dirilis sebelumnya, Cameron juga mengatakan bahwa peretas jahat “tidak berada di dalam ruang hampa. Mereka sering diaktifkan dan difasilitasi oleh negara-negara yang bertindak dengan impunitas.”
Inggris pun, kata dia, perlu meningkatkan ketahanan sibr, terlibat dalam upaya internasional dan diplomatik, dan mengadili terberat bagi mereka yang tertangkap.
Tak hanya itu, ia menyarankan agar perusahaan asuransi berhenti membayar uang tebusan. Mata uang kripto yang bersifat anonim, kata dia, seharusnya tidak dipakai untuk memfasilitasi transaksi yang tidak dipercaya.
Pada awal 2020, Travelex, penyedia layanan valuta asing yang berbasis di Inggris, terpaksa membayar uang tebusan sebesar US$2,3 juta untuk mendapatkan kembali kendali sistem elektroniknya setelah peretas mematikan jaringannya.[]
Share: